Menurut dia, pembangunan rubanah atau basement rumah sakit itu tidak menggunakan dinding penahan atau retaining wall. Walhasil, terjadi dua kali amblasan tanah, yakni pukul 21.41 WIB dan 22.30 WIB, dan menghasilkan cekungan dengan kedalaman 30 meter dengan lebar 8 meter.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Beban jalan juga karena pengaruh arus transportasi lalu lintas terus berjalan. Apa lagi dengan musim hujan," ujarnya.
Ia pun menyamakan fenomena tersebut dengan kejadian jalan amblas yang juga terjadi di area penggalian batubara di Kalimantan Timur beberapa waktu lalu.
Sutopo juga memastikan tanah ambles itu tidak ada hubungannya dengan aktivitas tektonik atau gempa bumi dan bukan merupakan likuefaksi karena tidak ada fenomena mencairnya material tanah di lokasi kejadian.
Ia pun menyarankan untuk segera dibentuk tim independen guna menyelidiki kejadian tersebut. Selain itu, kata Sutopo, Pemerintah Kota Surabaya harus mengevaluasi proses perizinan dan mekanisme pengawasan terhadap pelaksanaan konstruksi.
Jalan Raya Gubeng amblas pada Selasa (18/12) malam. Belum tercatat keberadaan korban akibat kejadian tersebut. Polisi juga masih berjaga di lokasi kejadian.
Saat ini Kapolda Jawa Timur Irjen Luki Hermawan sedang melakukan pemeriksaan di RS Siloam, tempat proyek pembuatan rubanah yang diduga jadi penyebab utama amblasnya Jalan Raya Gubeng.
(ani/arh)