Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan korban luka hingga kini mencapai 584 orang sementara 2 orang lainnya dinyatakan hilang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sutopo memaparkan di Kabupaten Pandeglang tercatat 33 orang meninggal dunia, 491 orang luka-luka, 400 unit rumah rusak berat, sembilan hotel rusak berat, dan 10 kapal rusak berat.
Sementara itu di daerah Lampung Selatan, papar Sutopo, tujuh orang meninggal dunia, 89 orang luka-luka dan 30 unit rumah rusak berat. Sedangkan di Serang tercatat tiga orang meninggal dunia, empat orang luka-luka, dan dua orang dinyatakan hilang.
"Pendataan masih dilakukan. Kemungkinan data korban dan kerusakan akan bertambah."
Lebih lanjut, Sutopo menuturkan penanganan darurat terus dikerahkan ke lokasi bencana. Status tanggap darurat seperti pembentukan struktur organisasi tanggap darurat, pendirian posko, dapur umum masih disiapkan bagi para pengungsi.
Hingga kini, dia menuturkan jumlah pengungsi masih terus didata. Pandeglang, menurutnya, daerah yang paling terdampak tsunami.
"Masyarakat dihimbau tidak melakukan aktivitas di sekitar pantai saat ini. BMKG dan Badan Geologi masih melakukan kajian untuk memastikan penyebab tsunami dan kemungkinan susulannya."
Tsunami terjadi pada Sabtu malam sekitar pukul 21.27 WIB. Sutopo mengatakan penyebab tsunami belum bisa dipastikan.
Namun, melalui cuitannya di Twitter, Sutopo mengatakan fenomena tsunami di Selat Sunda kemarin termasuk langka.
"Letusan Gunung Anak Krakatau juga tidak besar. Tremor menerus namun tidak ada frekuensi tinggi yang mencurigakan. Tidak ada gempa yang memicu tsunami saat itu. Itulah sulitnya menentukan penyebab tsunami di awal kejadian," kata Sutopo.
[Gambas:Twitter]
(rds/ard)