"Kami hingga kini masih tinggal di pengungsian," kata Yudi (40), warga Lentera Kecamatan Labuan, Pandeglang, Senin.
Terlebih, katanya, cuaca buruk, berupa hujan lebat disertai angin kencang, masih berlangsung hingga saat ini. Bahkan, katanya, Minggu (23/12) sore, sempat terjadi kenaikan gelombang di kawasan Pantai Labuan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada Senin (24/12) dini hari, gerimis masih turun hingga subuh. Gerimis itu kadang berhenti maski tak lama. Angin kencang juga kadang bertiup kencang saat malam. Pada pagi hari, gerimis masih turun meski langit terlihat cerah dan sesekali berhenti sejenak.
Rumah warga yang rusak akibat tsunami di kawasan pantai Sambolo, Carita, Banten (23/12). (CNN Indonesia/Bimo Wiwoho) |
"Kami menunggu cuaca kembali normal dan bisa pulang ke rumah," kata Yudi.
Senada, Mamun (45) mengaku belum berani pulang ke rumah karena merasa ketakutan dan khawatir terjadi gelombang tsunami susulan. Ia mengaku masih trauma ketika gelombang menerjang rumahnya.
"Kami merasa senang tinggal di pengungsian dan jika sudah aman dipastikan kembali ke rumah yang kondisinya mengalami kerusakan," ujarnya.
Sementara itu, sejumlah pengungsi di Kantor Kecamatan Panimbang mengatakan bahwa mereka belum bisa kembali ke rumah karena gelombang pesisir pantai cukup tinggi.
"Kami dan anggota keluarga kembali ke rumah setelah cuaca kembali normal," kata Samsudin (55) warga Panimbang.
Sebelumnya, Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Rahmat Triyono mengatakan tidak ada potensi tsunami susulan di sekitar perairan Banten.
(bmw/bmw/arh)
Rumah warga yang rusak akibat tsunami di kawasan pantai Sambolo, Carita, Banten (23/12). (CNN