Pakar Teknik Kelautan Laboratorium Otomasi BPPT Iyan Turyana menuturkan instansinya paham bahwa tsunami akan datang ratusan tahun mendatang kala letusan besar Gunung Anak Krakatau diperkirakan terjadi. Namun, ia tak menduga bahwa akan ada longsoran kepundan yang juga sama-sama menyebabkan gelombang besar.
Sebelumnya, menurut Iyan, beberapa buoy sempat dipasang di Selat Sunda sebagai lokasi tes buoy generasi 1 dan generasi 2 yang diproduksi Indonesia. Hanya saja, buoy itu diambil lagi setelah tes buoy dinyatakan berhasil dan dipindahkan ke lokasi lain yang lebih rentan tsunami.
Saat itu, buoy pun tidak dipasang di antara Gunung Anak Krakatau dan pantai. Adapun, buoy sempat dipasang di zona subduksi dua lempeng tektonik di Selat Sunda bagian selatan dan mendekati pesisir barat Sumatera.
"Saat itu, kami hanya benar-benar mencoba buoy. Kami kemudian ambil lagi dan deploy di tempat lain. Dan kami tidak menyangka bahwa itu (buoy) bisa berfungsi memberikan informasi tsunami di sekitar itu," kata Iyan.
Maka dari itu, rencananya BPPT beserta Kementerian Koordinator bidang Kemaritiman, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sedang menyusun proposal untuk merevitalisasi pendeteksian tsunami di Indonesia. Salah satu isi proposalnya adalah menaruh buoy di Selat Sunda.
"Buoy-nya buatan Indonesia, mungkin teknologinya mirip seperti Amerika Serikat dalam bentuk pressure gauge. Kalau di Jepang kan buoy sistem-nya menggunakan Global Positioning System (GPS)," kata dia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT