Pemprov Banten mengklaim memiliki tiga tingkat standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku dalam kondisi bencana alam yakni SOP level pabrik, SOP level zona industri, dan SOP level antarzona.
Kepala Dinas Industri dan Perdagangan Banten, Babar Suharso mengatakan, dari ketiga level itu, hanya dua SOP yang sudah rampung, yakni SOP level pabrik dan level zona industri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
SOP yang berlaku itu meliputi cara penanganan pabrik dan zona industri menghadapi kondisi darurat seperti tsunami dan gempa bumi. Ketika kondisi itu terjadi, pabrik-pabrik kimia ini harus berhenti beroperasi dalam hitungan menit.
Untuk gempa bumi, SOP tersebut sudah mengantisipasi hingga skala getaran magnitudo skala 8,5. Bahkan sebuah 'tsunami drill' pernah diselenggarakan di Cilegon beberapa tahun silam.
Hanya saja, kondisi yang dihadapi Pemprov Banten dan pelaku industri kimia di sana tidak semudah itu. Babar menjelaskan bahwa erupsi Gunung Anak Krakatau belum masuk dalam skenario penanganan bencana di Kota Cilegon. Padahal di saat bersamaan, mereka juga belum menemui jalan keluar untuk menyelesaikan SOP antarzona.
Perkara SOP antarzona ini, Babar menyebut masih ada kebingungan dari pemangku kepentingan untuk berperan sebagai koordinator penanganan bencana. Pemprov mengakui masih memerlukan peran pemerintah pusat menyusul potensi bahaya yang begitu besar dalam bencana yang melibatkan kimia.
"Kalau pandangan kami dan kawan-kawan industri harus pemerintah pusat karena kalau industri Kota Cilegon kontribusinya besar ke nasional," imbuh Babar.
Menurut Babar, setidaknya Banten butuh bantuan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), hingga Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam merumuskan SOP antarzona di Cilegon.
"Karena di sini menyangkut bencana yang spesifik, harus ada peran pemerintah pusat karena dampaknya luas dan makan waktu panjang jadi penanganannya harus komprehensif," pungkas Babar.
Gunung Anak Krakatau. (ANTARA FOTO/Atet Dwi Pramadia). |
"Untuk Cilegon, industri masih tetap berjalan dan masyarakat masih menjalani rutinitasnya seperti biasa," ucapnya.
Gubernur Banten, Wahidin Halim sebelumnya sudah mengeluarkan imbauan kepada warganya agar menghindari aktivitas di radius 1 kilometer dari bibir pantai. Sementara sejumlah pabrik di Cilegon diketahui bertempat tak jauh dari pantai.
Mengenai hal ini, Amal berkata pihaknya sudah meminta para pengusaha untuk mengambil langkah yang diperlukan saat kondisi darurat tanpa menunggu imbauan dari pemerintah. (bin/osc)
Gunung Anak Krakatau. (ANTARA FOTO/Atet Dwi Pramadia).