"Terus terang dokumen #VisiMisiCapres2019 tidak menampakkan perbedaan yang signifikan. Juga nir terobosan," kata Fahri dalam akun twitternya, Senin (31/12).
Padahal visi-misi itu menjadi bekal kedua pasangan calon saat debat Pilpres 2019 yang sedianya bakal digelar lima kali. Di sini Fahri berharap, debat yang dimulai 17 Januari 2019 nanti itu akan menyuguhkan tontonan menarik dengan terobosan-terobosan atas begitu banyak masalah selama ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
[Gambas:Twitter]
"Efek dari kelemahannya adalah dua dokumen ini gampang digugat soliditasnya," ucapnya.
Kedua, lanjut Fahri, sistematika menuntaskan masalah mesti melalui tiga tahapan utama, yakni pemantapan regulasi, manajemen kelembagaan, dan kepemimpinan. Menurut Fahri, ketiganya ini disebut sebagai pendekatan sistem, di mana untuk skala negara tentu memerlukan hal-hal ini.
Catatan lainnya, di mata Fahri, baik Jokowi-Ma'ruf maupun Prabowo-Sandiaga belum berinisiatif dan melakukan terobosan dalam mengkomunikasikan visi-misi mereka kepada rakyat selama kampanye.
"Kita belum melihat ini. Dugaan saya karena tidak jelas dan pijakan tidak jelas," kata Fahri.
Fahri mengambil contoh berdasarkan dokumen visi-misi, kedua paslon dinilai tidak mengerti mengambil untuk langkah konkret memberantas korupsi dalam lima tahun ke depan. Bagi Fahri tidak ada sistematika yang jelas dalam pemberantasan korupsi yang dicantumkan dalam visi-misi mereka. Ujung-ujungnya mereka akan menyatakan akan memperkuat KPK atau setuju dengan usulan KPK, dan lain-lain.
"Bagi rakyat ini merugikan," ucap Fahri.
[Gambas:Twitter]
Karenanya Fahri menilai, jika tak ada perbaikan, seberapa banyak pun poin yang ada dalam visi-misi ini akan menjadi janji-janji kampanye yang hanya enak didengar.
"Padahal untuk #CalonNomor01 kan harus menjawab apa yang sudah dijanjikan sementara #CalonNomor02 menambah janji baru," kata Fahri. (osc/sur)