Minimnya anggaran BMKG, kata dia, membuat jumlah peralatan deteksi dini bencana tidak memadai.
"Kalau presiden merasa ini masalah serius semestinya persoalan anggaran khususnya peralatan deteksi dini tidak menjadi masalah seperti sekarang ini," ujar Fary kepada CNNIndonesia.com, Senin (31/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:BMKG Paparkan Kronologi Tsunami Selat Sunda |
Lebih lanjut, politikus Gerindra ini membeberkan anggaran BMKG tahun 2019 yang dialokasikan pemerintah hanya sebesar Rp1,7 triliun. Angka itu jauh dari anggaran yang diajukan BMKG sebesar Rp2,7 triliun.
Ia menilai anggaran yang diterima BMKG tidak memadai untuk keperluan perbaikan dan pengadaan alat deteksi bencana.
"Komisi V itu meminta keseriusan pemerintah untuk menambah anggaran berkaitan dengan audit dan pengadaan deteksi gempa dan tsunami. Tapi anggaran di tahun 2019 itu baik BMKG maupun Basarnas tidak naik," ujar Fary. (jps/osc)