Polisi Sebut Penyanderaan di Nduga Isu Propaganda OPM

CNN Indonesia | Kamis, 03/01/2019 16:30 WIB
Polisi Sebut Penyanderaan di Nduga Isu Propaganda OPM Karopenmas Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo. (CNN Indonesia/Martahan Sohuturon)
Jakarta, CNN Indonesia -- Polisi menyatakan bahwa kabar Tim Evakuasi Kemanusiaan dari Pemerintah Daerah Nduga, Papua disandera oleh pasukan TNI/Polri di Distrik Yigi, Nduga hanya bagian dari propaganda yang dilempar oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo mengatakan berdasarkan klarifikasi Kepala Bidang (Kabid) Humas Polda Papua Komisaris Besar Ahmad Musthofa Kamal, dinyatakan kabar tersebut tidak berdasar.

"Saya sudah coba klarifikasi ke Kabid Humas Polda Papua, itu adalah isu isu propaganda yang dilakukan kelompok mereka (OPM). Jadi tidak ada dan tidak mendasar," kata Dedi saat memberikan keterangan pers di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis (3/1).


Juru Bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) OPM, sebelumnya mengatakan Tim Evakuasi Kemanusiaan dari Pemda Nduga yang di dalamnya juga diisi Wakil Ketua I DPRD Nduga Alimi Gwijangge dan Wakil Ketua II DPRD Nduga Dinar Kelnea disandera oleh pasukan TNI/Polri di Distrik Yigi.
Dia mengatakan Tim Evakuasi Kemanusiaan dari Pemda Nduga disandera pada 29 Desember 2018 saat bertolak dari Distrik Mbua ke Distrik Yigi untuk mengumpulkan masyarakat Yigi, Nitkuri, dan Mugi yang lari ke hutan setelah terjadi peristiwa penembakan antara TNI/Polri dan TPNPB.

Dedi menerangkan, Gubernur Papua Lukas Enembe telah mengklarifikasi bahwa mendukung langkah-langkah TNI/Polri dalam melakukan upaya penegakan hukum terhadap Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB). Namun, lanjutnya, langkah itu diharapkan ditempuh dengan tidak menciptakan kondisi yang membuat masyarakat merasa takut.

Dari imbauan itu, lanjutnya, aparat gabungan TNI/Polri melakukan pendekatan-pendekatan yang bersifat humanis, seperti membentuk Satuan Tugas Pembinaan Masyarakat (Satgas Binmas) Noken.

"Pendekatan kami juga bukan pendekatan represif, tapi humanis juga, seperti Satgas Binmas Noken dalam rangka memberikan edukasi ke masyarakat, mengembangkan pertanian dan peternakan," kata jenderal bintang satu itu.

Bantah Pakai Bom Fosfor

Mantan Wakapolda Kalimantan Tengah itu juga membantah aparat gabungan TNI/Polri menggunakan bom fosfor dalam perburan pelaku pembunuhan sejumlah pekerja di Nduga.

Menurut dia, aparat gabungan TNI/Polri hanya menggunakan granat asap dan gas air mata.

Sebelumnya, surat kabar di Australia, The Saturday Paper, memberitakan militer Indonesia menggunakan bom fosfor untuk mengejar pelaku pembunuhan pekerja di Nduga.
Dalam berita berjudul Exclusive: Chemical weapons dropped on Papua yang tayang pada 22 Desember 2018, dilaporkan bukti militer Indonesia menggunakan bom fosfor tampak dari tubuh korban yang mengalami luka bakar di seluruh tubuhnya. Tujuh orang tewas dalam operasi itu. Ribuan orang melarikan diri ke kawasan puncak.

Dedi menerangkan, informasi yang diungkap The Saturday Paper tersebut tidak lewat proses verifikasi dan klarifikasi terhadap aparat TNI/Polri yang berada di lokasi lebih dahulu.

Dedi berkata, pihaknya juga telah mengklarifikasi dan menunjukkan benda-benda yang digunakan dalam perburuan pelaku pembunuhan pekerja di Nduga dalam menyikapi berita tersebut.

"Bukti yang ditunjukkan oleh media mereka sudah diklarifikasi. Tidak ada bom mematikan. Itu granat asap dan gas air mata," tuturnya.
(ugo/ugo)