"Namanya oon kalau percaya hoaks. Udah jelas fitnah masih percaya, oon. Apa di Sumsel masih banyak orang oon? Buyan [bodoh] kalau bahasa di sini katanya. Buyan ente," ujar Ma'ruf disela peresmian posko TKD KIK Sumatera Selatan, di Palembang, Kamis (10/1).
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengatakan masyarakat harus pintar mengolah dan mempercayai informasi yang diterima agar tidak termakan hoaks.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dirinya mencontohkan eks politikus Partai Gerindra La Nyalla Mattaliti yang pernah terlibat dalam penyebaran isu bernuansa Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA) terhadap Jokowi pada Pilpres 2014 lalu.
Presiden Jokowi (tengah) berulangkali membantah dirinya keturunan ataupun anggota PKI. (CNN Indonesia/Galih Gumelar) |
Hari Santri
Soal isu anti-Islam, Ma'ruf meminta masyarakat untuk melihat jasa Jokowi dalam menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional serta memilih dirinya sebagai cawapres.
"Penetapan Hari Santri Nasional oleh siapa? Jokowi. Beliau mencintai santri kok anti-Islam, kemana pikiran ente?" ujarnya.
Lihat juga:Ma'ruf soal Jokowi Kader PKI: PKI Mata Lu |
Di samping itu, lanjut Ma'ruf, Jokowi juga sudah membentuk Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS), bank wakaf, RUU Pesantren dan Pendidikan Keagamaan.
"Pak Jokowi sudah bentuk KNKS. Ente [penyebar isu anti Islam] sudah berbuat apa untuk Islam? Ente sudah ngerjain apa untuk Islam? Pak Jokowi sudah banyak [berbuat untuk Islam]. Sudah buat bank wakaf mikro di pondok pesantren," ungkap dia.
Presiden Jokowi (tengah) berulangkali membantah dirinya keturunan ataupun anggota PKI. (