Ketidakyakinan itu berdasarkan orang-orang yang masuk dalam tim khusus kasus Novel yang dibentuk Kapolri Jenderal Tito Karnavian.
Tito merekrut 65 orang masuk dalam tim khusus kasus Novel. Mayoritas berasal dari kepolisian. Sementara orang di luar kepolisian antara lain peneliti LIPI Hermawan Sulistyo, eks Wakil Ketua KPK Indriyanto Seno Adi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu Yati juga khawatir tim khusus kasus Novel dibentuk hanya untuk membantu capres petahana Joko Widodo dalam menghadapi debat perdana pilpres bertema hukum, HAM, korupsi dan terorisme, 17 Januari mendatang.
Yati mengaku khawatir karena tim khusus itu dibentuk pada 8 Januari atau hanya sembilan hari jelang debat capres soal penegakan hukum dan HAM.
"Pembentukan hanya untuk menyiapkan jawaban saat debat capres," kata Yati.
Choirul menegaskan bahwa ekspektasi publik adalah pengungkapan pelaku dan motif penyerangan.
"Indikator kecepatan kerja tim menjadi salah satu yang penting. Mengingat kasus ini telah lama ditunggu karena sudah 600 hari lebih," tutur Choirul melalui pesan singkat.
"Tim ini tidak bekerja dari nol," kata Choirul.
Choirul juga menekankan pentingnya akuntabilitas tim tesebut. Sebab, menurut dia, akuntabilitas dapat membuat publik percaya terhadap kerja-kerja yang dilakukannya. (wis)