Menurut Yati paslon 02 tersebut sekadar memanfaatkan momentum untuk kepentingan elektoral.
"Itu menunjukkan bahwa isu ini dipakai hanya untuk mendulang suara. Mendulang dukungan dari publik," ucap Yati di kantor KontraS, Jakarta, Jumat (11/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Yati, jika memang ingin kasus Novel terungkap, seharusnya Prabowo dan Sandi sejak lama ikut mendesak pemerintah untuk membentuk tim gabungan pencari fakta (TGPF). Bukan hanya saat hari pencoblosan Pilpres 2019 semakin dekat.
"Jadi tidak bisa dijadikan ukuran bahwa kubu 02 punya prioritas terhadap isu HAM," kata Yati.
Di sisi yang lain, dia juga berharap capres petahana Joko Widodo dapat menjelaskan secara rinci perkembangan kasus Novel Baswedan. Tentu seputar pelaku yang hingga kini belum ditemukan.
Selain itu, Yati ingin Jokowi menjelaskan secara rinci mengapa kasus pelanggaran HAM masa lalu tidak dapat dituntaskan. Padahal, itu adalah janji kampanye 2014 silam.
"Ada hal yang harus diselesaikan secara jelas secara rinci spesifik apa yang akan dilakukan dalam penyelesaian kasus," kata Yati.
KPU menggelar debat perdana pilpres di Hotel Bidakara, Jakarta, pada 17 Januari mendatang. Tema debat nanti adalah hukum, HAM, korupsi dan terorisme. (bmw/wis)