Pada saat peluncuran buku berjudul 'Kebijakan Ahok' yang merupakan karyanya sendiri, Ahok menulis sebuah surat untuk publik. Surat tertanggal 12 Agustus 2018 tersebut, berisi ungkapan syukur Ahok atas terbitnya buku 'Kebijakan Ahok' tersebut.
Yang menarik, di akhir surat itu Ahok menitipkan pesan agar panggilannya diganti. Ahok ingin dipanggil dengan nama 'BTP'.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat itu, Staf Ahok, Sakti Budiono memastikan penggantian nama panggilan itu merupakan permintaan langsung dari mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut. "Basuki atau BTP lebih Jawani," kata Sakti.
[Gambas:Instagram]
Surat itu sendiri berisi permohonan maaf Ahok atas segala tutur kata, sikap, dan perbuatan yang sengaja maupun tidak sengaja menyakiti hati warga. Dua lembar kertas bertulis tangan itu ditutup dengan permintaan agar publik memanggilnya BTP.
"Saya mohon maaf, dan saya keluar dari sini dengan harapan panggil saya BTP bukan Ahok," tulis Ahok.
Tak ketinggalan, ia juga membuat akun Youtube 'Panggil Aku BTP'. Akun itu dikatakannya akan mengunggah detik-detik kebebasan dirinya dari tahanan.
Pengamat politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Adi Prayitno mengatakan permintaan Ahok untuk mengubah nama panggilannya tersebut merupakan upaya rebranding, bahkan 'pemutihan' nama.
Pasalnya, kata Adi, nama 'Ahok' selama ini selalu diasosiasikan dengan kasus penistaan agama yang membuatnya harus mendekam di balik jeruji.
Foto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi |
Adi menuturkan rebranding tersebut bisa dimulai dari kalangan pendukungnya sendiri. Selain memudahkan upaya rebranding, hal itu kata Adi juga sekaligus menjadi pemicu semangat para pendukungnya.
Sebab, menurut Adi, kasus hukum yang menimpa Ahok mau tak mau memang sedikit menurunkan semangat para pendukungnya.
Sedangkan bagi pihak yang selama ini kontra Ahok, sambung Adi, rebranding tersebut tidak bisa dilakukan hanya sekadar pada pergantian panggilan saja. Tetapi juga mesti dibarengi dengan perubahan sikap dari Ahok.
Sosok Ahok selama ini memang dikenal publik sebagai sosok yang meluap-luap saat berbicara, mudah marah, dan sebagainya.
Foto: CNN Indonesia/Laudy GraciviaMassa pendemo kasus penodaan agama yang menyeret Ahok ke |
Lebih dari itu, Adi beranggapan pergantian nama panggilan menjadi BTP tersebut memang merupakan sebuah upaya Ahok untuk jangka panjang. Termasuk bila nantinya Ahok kembali terjun ke dunia politik.
Adi menyampaikan pergantian nama panggilan tersebut Ahok menginginkan agar ke depannya dirinya tak lagi disangkutpautkan dengan kasus penistaan agama yang menimpanya.
Lekat di Benak Publik
Dihubungi terpisah, pengamat komunikasi politik dari Universitas Padjajaran Dadang Rahmat Hidayat menilai nama 'Ahok' telanjur melekat di benak masyarakat. Karenanya, upaya rebranding menjadi BTP tak akan menghilangkan 'Ahok'.
"Kalau menurut pandangan saya, nama seterkenal itu tetap aja enggak bisa hilang ya," kata Dadang saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin.
Salah satu rangkaian Aksi Bela Islam yang menuntut penangkapan Ahok akibat kasus penodaan agama. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono) |
"Tetap lebih terkenal dengan 'Ahok'-nya" ucap Dadang.
Ia menyampaikan upaya Ahok untuk berusaha menghapus jejak masa lalunya, termasuk soal kasus penistaan agama dengan mengubah panggilan menjadi BTP, tidak akan bisa dilakukan begitu saja.
"Terlepas dari apapun, Ahok sudah terkenal, bahkan mungkin sudah melekat, tidak bisa dipisahkan dari beliau," kata Dadang.
(dis/arh)
Foto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi
Foto: CNN Indonesia/Laudy Gracivia
Salah satu rangkaian Aksi Bela Islam yang menuntut penangkapan Ahok akibat kasus penodaan agama. (