Menurut dia, hal itu terlihat dari debat perdana capres-cawapres tentang hukum, HAM, korupsi dan terorisme. Jokowi, kata dia, bukannya memperkuat visi dan misi di debat itu tetapi malah obral janji untuk menghadapi pilpres 17 April nanti.
"Saya harus menyebut Jokowi kemarin hanya beretorika semata, tidak ada yang nyata. Di sektor penegakan hukum, pemberantasan korupsi, terorisme, semua retorika. Bertolak belakang dengan apa yang dilakukan," kata Ferdinand di Media Center Prabowo-Sandi, Jakarta, Selasa (22/1) malam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dia lebih tahu soal teroris, lebih tahu daripada siapapun di negeri ini," katanya.
Sementara di bidang pemberantasan korupsi, kata Ferdinand, revolusi mental yang digaungkan Jokowi sejak 2014 lalu tidak ada hasilnya. Kata dia, justru, di bawah kepemimpinan Jokowi semakin banyak pejabat negara yang ditangkap KPK.
Berbeda dengan Prabowo, kata Ferdinand, mantan Danjen Koppasus itu justru berniat memperbaiki kesejahteraan aparatur negara agar tidak korupsi. Hal ini pun dia anggap jauh lebih realistis daripada revolusi mental ala Jokowi.
"Sumber dari korupsi adalah ekonomi, baru yang kedua karakter. Permasalahan ekonomi harus diselesaikan lebih dulu, karena masalah karakter tidak mudah. Walaupun 2014 revolusi mental, sekarang tidak ada hasilnya," kata Ferdinand.
Dalam perkara penegakan hukum, Ferdinand menyebut Prabowo-Sandi jauh lebih tegas daripada Jokowi-Amin. Dalam debat capres perdana, Ketua Umum Partai Gerindra itu menyatakan akan memimpin penegakan hukum di Indonesia bila dirinya mendapatkan mandat dari rakyat di pilpres nanti.
"Ini presiden menghindar, bilang 'laporkan saja, laporkan saja'. Sementara Pak Prabowo menyatakan beliau akan memimpin penegakan hukum untuk mewujudkan negara yang berkeadilan," kata Ferdinand.