Menurut Airlangga eksistensi Jan Ethes di media sosial hanya sekadar ajang berbagi momen yang dilakukan keluarga Presiden Jokowi, namun tidak bertujuan mendulang suara di kancah pertarungan politik dalam rangka Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.
"Semua tahu sosial media bukan politik. Semua harus membedakan kampanye yang mendorong partai dan yang lain," ujarnya di Istana Negara, Selasa (29/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara Presiden Jokowi sendiri enggan menanggapi tudingan penggunaan Jan Ethes sebagai cara mendongkrak elektabilitas dirinya di media sosial. Kepala negara hanya diam ketika ditanya awak media.
"Tidak baik dan jelas itu dilarang oleh Undang undang. Pelibatan anak kecil untuk politik itu ada sanksi pidananya," kata Ferdinand kepada CNNIndonesia.com, Minggu (27/1).
Di samping dilarang undang-undang, Ferdinand juga menyebut Jan Ethes tidak patut dieksploitasi untuk kepentingan politik lantaran belum cukup umur. Dia mengatakan politik Indonesia cenderung keras, bahkan kejam.
"Kasihan Jan Ethes nanti kalau jadi korban bully akibat politik," imbuh Ferdinand.
Ferdinand lantas memberi saran kepada Jokowi dan Tim Kampanye Nasional agar berhenti melibatkan Jan Ethes. Dia ingin bocah tersebut menikmati dunia dengan cara yang sesuai dengan usianya saat ini.
Kepala Divisi Advokasi Partai Demokrat itu menolak segala bentuk pelibatan anak-anak dalam kepentingan politik.
"Terlebih kepada Jokowi, jangan egois hanya untuk tujuan politik membawa anak kecil ke kancah politik yang keras," kata Ferdinand.
Andi mengatakan pihaknya mampu memainkan politik yang serius dan tergolong receh. Langkah serius, lanjutnya, yakni dengan memaparkan data-data.
"Kami bisa main serius dengan data-data, tapi kami juga bisa memviralkan Jan Ethes," katanya.
"Kami unggul yang mereka enggak punya, contohnya kartun Pak Jokowi main bum bum car dengan Jan Ethes, itu viral di mana-mana," lanjutnya. (uli/fea)