Sebelumnya, puluhan siswa penderita Hepatitis A ini tersebar di empat sekolah, yakni di SDN Mekarjaya 12, SDN Mekarjaya 30, SDN Sukamaju 6, dan SDN Sukamaju 9, dilaporkan terkena Hepatitis A. Dinas Kesehatan Kota Depok sempat melabeli kejadian ini sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) parsial karena sifatnya yang masih lokal.
Dari segi lokasi, keempat sekolah tersebut memang tak begitu jauh satu sama lain. SDN Mekarjaya 12 dan 30 bahkan berbagi gedung yang sama untuk kegiatannya. Kedua sekolah itu pun hanya berjarak 10 menit perjalanan dengan sepeda motor dengan dua sekolah sisanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Enggak ada laporan kasus lagi," kata Nova saat ditemui di kantornya, Selasa (29/1).
Pemkot sejatinya sudah turun ke sekolah-sekolah terkait untuk menelusuri penyebab penyakit tersebut. Mereka tak hanya memeriksa para murid, guru, dan juga pedagang makanan di sekitar sekolah.
"Hasilnya belum dapat, 14 hari kerja sejak tanggal 28 kemarin baru akan keluar pemeriksaan laboratorium," kata Nova.
Diketahui, virus Hepatitis A menyebar lewat makanan atau minuman ataupun lewat tinja (fecal dan oral). Virus ini biasanya ditemukan di makanan atau minuman yang sudah terkontaminasi. Kulit seseorang yang terjangkiti penyakit ini biasanya sedikit menguning.
Hasil pengecekan dari laboratorium, kata Nova, akan menentukan muasal virus penyakit. Siswa yang menderita penyakit ini diketahui sudah terjadi sejak akhir Desember atau dengan kata lain saat masih musim libur pergantian tahun.
"Misal ada satu anak yang kena Hepatitis A, mungkin dia saling tukar-menukar makanan jadi penularannya dari anak sekolah, bukan dari pedagang," tutur Nova.
"Dicurigai begitu," imbuhnya.
Dinas Kesehatan Depok mengaku sudah mengambil sampel dari semua pedangan makanan di empat sekolah tadi. Secuil bagian dari semua jenis makanan tak luput diambil oleh petugas sebagai sampel penelitian.
Hal ini dibenarkan oleh Candra, seorang pedagang di depan SDN Sukamaju 9. Ia menceritakan belum lama ini ada penyuluhan dari dinas terkait untuk sosialisasi kebersihan saat berdagang.
Salah satu imbas dari penyuluhan tersebut adalah ia lebih berhati-hati untuk merokok.
"Kalau dari kemarin-kemarin enggak ada penyuluhan saya sembarang ngerokok aja. Malah saya bakar rokok dulu sebelum anak-anak beli. Tapi sekarang saya sudah lebih perhatian, harus tahan kalau lagi jualan," kata Candra penuh semangat.
Eka Mila, guru di SDN Sukamaju 09 membenarkan bahwa kejadian pertama Hepatitis A ini sebelum kegiatan belajar mengajar hari pertama di 2019 dimulai. Berawal dari seorang siswa saja, kemudian ditemukan siswa-siswa lain yang terjangkit virus serupa.
"Pihak sekolah menerima laporan ini sebelum sekolah dimulai dari hasil koordinasi dengan puskesmas setempat," jelas Eka.
Kendati demikian, ia juga menunggu hasil pengujian laboratorium dari Dinas Kesehatan Depok.
Hal serupa juga diutarakan oleh Cicih, guru unit kesehatan di SDN Sukmajaya 06. Cicih menceritakan kejadian Hepatitis A di sekolahnya terjadi saat 2 Januari alias ketika pembagian rapor.
Lebih lanjut, ia tak menemukan ada dugaan penularan virus terjadi di sekolah. Pasalnya, siswa-siswa yang terkena Hepatitis A berasal dari kelas yang berbeda-beda dan hampir tidak ada interaksi.
"Kalau penularan di sekolah sih saya rasa tidak ada, ada memang yang sekelas tapi itu pun tidak akrab," pungkasnya.
(bin/ain)