Keberadaan Indonesia Barokah itu sendiri yang tersebar setidaknya di masjid-masjid dinilai anomali sebagai media propaganda politik.
Pengamat media dan politik dari New Media Watch Agus Sudibyo menilai ada dua anomali dari penyebaran Indonesia Barokah. Pertama, propaganda yang yang dilakukan lewat media massa cetak itu saja sudah aneh. Pasalnya, kata dia, saat ini penyebaran propaganda dinilai lebih efektif, cepat, dan masif lewat platform digital.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anomali kedua, kata dia, adalah peredaran yang menargetkan lingkungan-lingkungan kegiatan ibadah seperti masjid dan majelis taklim. Agus berpendapat hal ini janggal karena pemilih di lingkungan tersebut merupakan pemilih loyalis atau simpatisan garis keras yang sulit berpindah hati ke jagoan lain dalam Pilpres 2019.
"Dalam survei, segmen ini istilahnya captive market, pilihannya sulit diubah. Kenapa kampanyenya justru masuk ke dalam kelompok yang pilihan politiknya spesifik dan sulit diubah," ujar Agus.
Antisipasi Obor Rakyat Jilid Baru
Di tempat yang sama, Direktur Eksekutif Indonesia Public Institute Karyono Wibowo, menduga Indonesia Barokah sebagai antisipasi kemunculan Obor Rakyat jilid baru.
"Munculnya Indonesia Barokah ada kesan untuk meng-counter isu miring yang diarahkan pada paslon tertentu. Berbagai isu seperti komunisme, tidak pro-Islam, kriminalisasi ulama, dan sebagainya" kata Karyono memberikan contoh.
Keberadaan Obor Rakyat sempat mencemari kontestasi Pilpres 2014 karena dinilai bermuatan berita-berita bohong alias hoaks terhadap salah satu calon presiden. (ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah) |
Karyono menyebut ada Indonesia Barokah sengaja dimunculkan lebih cepat sebelum Obor Rakyat terbit kembali setelah dua pemimpinnya yakni Setiyardi (Pemimpin Redaksi) dan Darmawan Sepriyosa (Redaktur Pelaksana) mendapat hak cuti napi. Publik, kata Karyono, diharapkan dapat lebih awas menghadapi narasi negatif terhadap salah satu paslon Pilpres 2019.
"Sehingga ketika sebagian pihak melakukan hoaks, black campaign, masyarakat sudah punya literasi, memfilter propaganda kampanye hitam," kata Karyono menduga alasan terbitnya tabloid Indonesia Barokah.
Keberadaan Obor Rakyat sempat mencemari kontestasi Pilpres 2014 karena dinilai bermuatan berita-berita bohong alias hoaks terhadap salah satu calon presiden. (ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah)