"Jadi hampir di 3 dapil ini, memang kalau kita lihat komposisinya dikuasai oleh PDI Perjuangan dan Gerindra," kata Direktur Riset Charta Politika Muslimin dalam acara pemaparan hasil survei di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (11/2).
Survei Charta Politika dilakukan dalam periode 18-25 Januari 2019 dengan melakukan wawancara tatap muka terhadap 800 responden dari setiap dapil. Artinya terdapat 2.400 responden yang ikut berpartisipasi dalam survei itu. Margin of error dari setiap dapil dinyatakan lebih kurang 3,4 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada dapil Jakarta 2, Charta Politika mencatat Gerindra unggul dengan 27 persen suara, diikuti PDIP dengan 24,6 persen suara. Lalu ada PKS dan PKB dengan masing-masing meraih 8,3 persen dan 4,3 persen.
Muslimin mengatakan selain wilayah Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan, Dapil DKI Jakarta 2 seharusnya juga meliputi pemilih luar negeri. Namun, dalam survei ini, Charta Politika tidak mengambil sampel pemilih luar negeri karena kendala teknis.
"Di DKI 2 yang unggul sementara adalah Gerindra, jadi di DKI 2 ada Jakpus dan Jaksel. Kebetulan juga ada luar negeri. Namun saya menjelaskan sampel kita hanya ada di Jakpus dan Jaksel," ungkapnya.
Menurut Muslimin, coattail effect atau efek ekor jas sangat mempengaruhi pemilih caleg di DKI Jakarta. Artinya, para pemilih dipengaruhi oleh capres-cawapres yang diusung partai-partai.
"Kalau kita lihat komposisinya PDIP dan Gerindra karena memang bagaimana kemudian kita bisa katakan bahwa coattail effect di DKI capres dan cawapres mempengaruhi pilihan terhadap partai pengusung itu cukup berpengaruh di dapil DKI 1, 2, dan bahkan 3," jelas Muslimin.
Tsamara Amany Paling Populer
Hasil survei Charta Politika juga mencatat caleg dari PSI, Tsamara Amany paling dikenal masyarakat di dapilnya, DKI Jakarta II.
Popularitas Tsamara itu mengejutkan mengalahkan politikus PKS Hidayat Nur Wahid. Muslim mengatakan temuan ini mengejutkan karena Tsamara adalah pendatang baru di kontestasi Pileg.
"Yang di DKI II yang tertinggi adalah mbak Tsamara Amany ini 26,4 persen tingkat keterkenalannya. Kemudian sterusnya ada Hidayat Nur Wahid, dan seterusnya," kata Muslimin.
Caleg dari PSI, Tsamara Amany. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono) |
"Populer itu penting tapi ternyata popularitas tak jamin terpilih. Kemudian kedua, kalau kita lihat rata-rata caleg yang bekerja itu tidak banyak di bawah sehingga kecenderungan orang tadi lebih banyak memilih parpol," jelas Muslimin. (ani/wis)
Caleg dari PSI, Tsamara Amany. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)