Selama ini hasil survei seluruh lembaga survei menempatkan pasangan calon presiden dan wakil presiden yang diusung Gerindra, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, kalah dari Joko Widodo-Ma'ruf Amin.
Fadli mencontohkan, saat Pilkada DKI Jakarta lalu, banyak lembaga survei yang menyebut pasangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat mengungguli Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Namun hasil akhir perhitungan suara akhir malah sebaliknya.
"Yang namanya lembaga survei harus ada akuntabilitas, kalau devisiasi kesalahannya terlalu besar kalau di Jepang itu harusnya kita kasih samurai, kita suruh harakiri lembaga survei itu," kata Fadli di Sekretaris Nasional Prabowo-Sandi di Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (12/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini menurutnya karena ada lembaga survei yang jadi alat kampanye. "Kita tahulah lembaga survei di Indonesia jadi alat kampanye, ada yang terang-terangan declare ada yang sembunyi-sembunyi," katanya.
Wakil Ketua DPR itu tak menjelaskan lebih lanjut kelompok yang menjadikan lembaga survei sebagai alat kampanye.
"Misalnya ya ada urusan pajak segala macam, jadi harus ada regulasi supaya ini tidak dijadikan alat kampanye," katanya.