Tepis Jokowi Antek Asing, Susi Klaim Perikanan Berdikari

dhf, CNN Indonesia | Rabu, 13/02/2019 04:51 WIB
Tepis Jokowi Antek Asing, Susi Klaim Perikanan Berdikari Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyebut Jokowi sosok yang berani pasang badan dalam kebijakan penangkapan kapal asing ilegal. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengklaim neraca perikanan Indonesia menduduki posisi teratas di Asia Tenggara tanpa melibatkan investasi asing. Atas pencapaian itu dia menyatakan tidak masuk akal bila Presiden Joko Widodo masih diisukan sebagai antek atau kaki tangan kepentingan asing.

"For the first time, tahun 2015 neraca perikanan kita nomor satu di Asia Tenggara dan we keep it continue this way. Itu kekuatan nasional, not single foreign investment. Itu kalau dibilang antek asing, non sense," kata Susi dalam diskusi Langkah Berani Pulihkan Lingkungan di Kantor Staf Presiden RI, Jakarta, Selasa (12/2).

Susi juga menyebut Jokowi berani pasang badan untuk membersihkan kapal-kapal asing yang melakukan penangkapan ikan illegal.


Dia menuturkan pada 2014 ada sekitar sepuluh ribu kapal yang melakukan pemancingan di laut Indonesia. Jokowi memerintahkan Susi untuk melakukan peneggelaman kapal asing yang melanggar aturan.

Selain itu, Jokowi memerintahkan untuk melakukan moratorium izin kapal eks-asing pada 3 November 2014 hingga 31 Oktober 2015. Hasilnya, hasil laut Indonesia meningkat.

Saat ini, kata Susi, sudah ada 488 kapal yang ditenggelamkan. Stok ikan di lautan Indonesia meningkat dari 7,1 juta di 2014 menjadi 12,5 juta di tahun 2016.

Angka itu terus bertambah hingga kini. Begitu pula dengan jumlah biomassa laut, yang meliputi mikororganisme, tumbuhan, dan hewan hidup, yang kian meningkat.

"Kemudian dari biomassa kita, naik almost three times. More than any ocean in the world. Yang mana di lautan lainnya, biomassa itu turun tiga kali lebih cepat dari yang mereka prediksi," tutur Susi.

Susi menyampaikan awalnya tidak menyangka Jokowi akan mengambil keputusan nekad dengan mengusik kapal-kapal asing tersebut.

"Kebetulan Pak Presiden dengan komitmen tinggi betul-betul saya pikir tidak akan ada yang akan berani seperti beliau langsung membalikkan. Saya sih senang diberikan wewenang seperti itu karena gampang kerjanya," ucap Susi. (dhf/wis)