Finsensius menggarisbawahi bahwa Permadi adalah aktivis media sosial. Sejak aktif di Facebook empat tahun lalu, dia berhasil merengkuh 500 ribu pengikut di halaman 'Abu Janda'.
"Berarti ada cost di sana. Dari waktu yang dihabiskan, materi yang dihabiskan, itu nilainya cukup besar," ujar Finsensius kepada CNNIndonesia.com, Selasa (12/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ada kerugian komersial yang juga sudah dimasukkan ke tuntutan mereka, tapi pihak Permadi hanya akan mengungkap hal itu di persidangan.
Sementara dari sisi immaterial, kuasa hukum menyebut kliennya mengalami kerugian yang tak kalah besar. Munculnya nama 'Permadi Arya' di pernyataan resmi Facebook menurut dia sudah cukup merusak karier kliennya.
Permadi Arya alias Abu Janda (kedua kiri) melayangkan surat somasi Rp1 triliun kepada CEO dan pendiri Facebook Mark Zuckerberg atas tuduhan dirinya termasuk produsen fitnah Saracen. (CNN Indonesia/Christie Stefanie) |
Permadi meyakini dalam kasus ini, ia dan kuasa hukumnya dapat membuktikan bahwa Facebook sudah keliru menempatkan namanya terlibat dalam Grup Saracen.
"Ini kuat kasus kita. Makanya Facebook jangan macam-macam lah, jangan anggap remeh. Meskipun dia perusahaan asing, perusahaan multi miliar dolar, jangan salah lawyer kita sudah riset bahwa menurut terms and conditions mereka, mereka bisa digugat di wilayah hukum tempat terjadinya sengketa," kata Permadi dengan penuh semangat.
Permadi menyatakan seandainya pihak Facebook tidak menyebut namanya dalam pernyataan resmi mereka, dia akan mengikhlaskan akunnya dihapus.
Perkara ini dimulai pada 22 September 2018. Ketika itu dia menerima notifikasi di surel bahwa ada pihak yang berupaya mengganti kata sandi akun Facebook miliknya.
Dia mendapati akunnya dijebol peretas. Permadi menilai akunnya dibobol jaringan Saracen.
