Jokowi menyebut untuk mewujudkan hal itu pihaknya akan meningkat kualitas perguruan tinggi dengan meningkatkan dana abadi pendidikan dan penelitian. Menurut Jokowi, saat ini Indonesia memiliki dana abadi pendidikan dan penelitian sebesar Rp66 triliun.
"Dan akan terus kita tingkatkan hingga mencapai Rp100 triliun dana abadi ini dalam waktu lima tahun ke depan," kata Jokowi saat memberikan pidato kebangsaan dalam Konvensi Rakyat, di SICC, Bogor, Jawa Barat, Minggu (24/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ke depan kita ingin tingkatkan hingga mencapai Rp50 triliun dana abadi penelitian dan pengembangan," ujarnya.
"Saya optimis maju, saya optimis setara. Dengan SDM premium, saya optimis generasi muda dan milenial akan mampu bersaing dan eksis di dalam kompetisi global," kata Jokowi.
Sebelumnya, CEO Bukalapak Achmad Zaky sempat menyinggung anggaran untuk penelitian dan pengembangan Indonesia yang masih kecil dibanding sejumlah negara lainnya. Zaky menilai niat pemerintah mengembangkan program industri 4.0 sulit terwujud bila alokasi anggaran riset terlalu rendah.
Bahkan, menurut Zaky, alokasi anggaran riset Indonesia jauh tertinggal dibandingkan negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.
Berdasarkan data yang digunakannya, ia menyebut anggaran riset di Indonesia hanya mencapai US$2 miliar. Sementara, Singapura dan Malaysia masing-masing US$10 miliar. Sedangkan Amerika Serikat (AS) mencapai US$511 miliar.
"Omong kosong industri 4.0 kalau budget R&D; negara kita kaya gini (2016, in USD) 1. US 511B 2. China 451 B 3. Jepang 165B 4. Jerman 118B 5. Korea 91B 11. Taiwan 33B 14. Australia 23B 24 Malaysia 10B 25. Spore 10B 43. Indonesia 2B. Mudah2an presiden baru bisa naikin," tulis Zaky beberapa waktu yang lalu melalui akun Twitter pribadinya.
Namun cuitan itu kini sudah dihapus Zaky. (fra/osc)