Ketua MUI DKI KH Munahar Muchtar HS mengatakan para politikus yang hadir dalam acara itu datang sebagai pribadi. Karena itu tak bisa dilarang karena acara tersebut terbuka untuk umum.
"MUI DKI Jakarta tidak pernah mengirimkan undangan khusus kepada para tokoh politik. Kalaupun ternyata ada beberapa yang hadir, tentu mereka datang sebagai pribadi, seorang warga negara, kami terbuka menerima tidak melarang mereka untuk hadir. Siapapun tokohnya," kata Munahar dalam keterangan resmi yang diterima CNNIndonesia.com.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Acara itu mendapat sorotan dan dianggap politis karena diinisiasi oleh Presidium Alumni 212 (PA 212) dan dihadiri sejumlah politisi seperti Ketua Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan hingga Ketua Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sohibul Iman.
"... Jangan, jangan Engkau tinggalkan kami dan menangkan kami. Karena jika Engkau tidak menangkan. Kami khawatir ya Allah. Kami khawatir ya Allah tak ada lagi yang menyembah-Mu..."
Meski demikian MUI DKI mengklaim Malam Munajat 212 bebas dari politik praktis.
"Kegiatan 'Senandung Sholawat dan Dzikir Nasional' kemarin bebas dari politik praktis, karena tidak ada satupun atribut partai politik atau calon presiden-calon wakil presiden yang ada di lokasi acara," kata Munahar.
"Jika ada pedagang yang memanfaatkan momen keramaian untuk berjualan atribut politik, tertentu di luar lokasi kegiatan, tentu MUI DKI Jakarta tidak bisa melarang orang untuk mencari rezeki," kata Munahar.