Melalui akun twitter resminya, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyebutkan luncuran awan panas itu terjadi pada Senin (25/2) pukul 11.24 WIB dengan durasi 110 detik. Luncuran awan panas mengarah ke Kali Gendol.
"Awan panas tidak teramati dari CCTV BPPTKG karena cuaca berkabut," demikian keterangan BPPTKG di twitter.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
[Gambas:Twitter]
Selain itu juga terjadi gempa embusan 1 kali dengan amplitudo 5 mm selama 20.2 detik, dan gempa low frekuensi 1 kali dengan amplitudo 4 mm selama 15 detik.
Sedangkan, pengamatan BPPTKG pukul 06.00-12.00 WIB menyebutkan berdasarkan data seismik terekam sembilan kali gempa guguran dengan durasi 17-81 detik.
Kubah lava masih stabil dengan laju pertumbuhan yang masih rendah, rata-rata kurang dari 20.000 meter kubik per hari.
Lihat juga:Aktivitas Merapi Kembali Meningkat |
BPPTKG mengimbau warga tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari puncak Gunung Merapi. Sebab, telah terjadi beberapa kali awan panas guguran yang jarak luncurnya semakin jauh.
BPPTKG mengimbau masyarakat yang tinggal di kawasan alur Kali Gendol meningkatkan kewaspadaan. Masyarakat di kawasan itu juga diminta mewaspadai bahaya lahar hujan terutama saat terjadi hujan di sekitar puncak Gunung Merapi.
[Gambas:Video CNN] (ugo/ugo/sur)