Pernyataan Siti itu merujuk pada sejumlah kesalahan data yang disampaikan Jokowi saat debat capres kedua di Hotel Sultan, 17 Februari lalu.
"Seharusnya segera setelah perdebatan terjadi itu Pak Jokowi menyatakan minta maaf. Minta maaf bahwa apa yang disampaikan itu keliru. Itu yang tidak dilakukan," ujar Siti, Selasa (26/2), dalam diskusi bertajuk Rezim Jokowi Menebar Hoax dan Kebohongan di Seknas Prabowo-Sandi, Jakarta, (26/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Soal konflik agraria, Jokowi saat debat mengklaim hampir tak ada lagi konflik agraria dalam kuru 4,5 tahun terakhir. Padahal data dari Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) menyebut pada 2018 saja tercatat 807,17 ribu hektare lahan di Indonesia mengalami konflik.
Jokowi sebenarnya meluruskan klaim data-datanya beberapa hari setelah debat. Di sisi lain, Siti menuturkan kekeliruan data termasuk kesalahan fatal karena debat berfungsi sebagai ajang memberikan edukasi kepada masyarakat.
"Kita harapkan kalau tidak tahu calon itu lebih baik mengatakan mobon maaf. Mohon maaf untuk jumlah angka kira-kira segini sehingga tidak salah," ujar Siti.
Lebih lanjut, Siti memaklumi apabila pasangan calon menyampaikan argumen yang tidak lengkap pada saat debat capres-cawapres. Pasalnya, waktu untuk menjawab pertanyaan sangatlah singkat, paling lama dua menit.
Selain itu, ia berharap pada debat putaran ketiga mendatang dapat menggali substansi masalah dan tema yang didebatkan.
"Kami usulkan agar kontestasi melalui debat ketiga jauh mencerahkan, edukatif, jauh dari kemungkinan subordinasi apalagi urusan privat," ujarnya.
Debat ketiga hanya mempertemukan cawapres Ma'ruf Amin dan Sandiaga Uno. Debat ini digelar 17 Maret 2018 mengangkat tema pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial dan budaya. (sah/wis)