Menko Polhukam Wiranto sebelumnya menyebut Kivlan pernah meminta uang padanya. Namun tak dijelaskan kapan dan untuk apa permintaan uang itu disampaikan.
Menurut Kivlan, uang itu adalah haknya atas penggantian biaya pembentukan Pasukan Pengamanan Masyarakat Swakarsa (Pam Swakarsa) atas perintah Wiranto yang ketika menjabat Panglima ABRI (TNI).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Betul saya minta duit karena Wiranto waktu itu perintahkan saya bentuk Pam Swakarsa. Tapi dia tidak bayar saya sepeser pun," ucap Kivlan kepada CNNIndonesia.com, Rabu (27/2).
"Dia itu mengaku terima uang Rp10 miliar dari Bulog, tapi enggak kasih ke saya. Ada perintah tertulisnya. Saya berhak minta dong," tuturnya.
Kivlan menuding Wiranto telah melakukan korupsi lantaran menggunakan uang dari Bulog untuk kepentingan pribadi. Bahkan hingga saat ini, Kivlan mengaku tak pernah menerima uang tersebut.
"Sampai sekarang saya enggak pernah dikasih, makanya saya minta, terakhir empat bulan lalu. Uang itu dikantongi sendiri, korupsi dong. Jenderal apaan tuh (Wiranto) bikin saya miskin," katanya.
Sementara itu saat dikonfirmasi, Wiranto enggan menanggapi lebih lanjut. Ia meminta agar semua pihak fokus pada persiapan pemilu April mendatang.
"Sudah cukup saya komentari itu. Kita lagi pemilu begini. Semua sedang konsentrasi ke bangsa, bukan ke urusan-urusan seperti ini. Saya sudah jawab, cukup," ucapnya.
Wiranto membantah tudingan tersebut dan menantang Kivlan serta Prabowo untuk membuktikan siapa dalang kerusuhan Mei 1998 dengan melakukan 'sumpah pocong.'
Wiranto mengatakan perlu melakukan 'sumpah pocong' agar masalah tersebut jelas. Ia juga meminta Kivlan tak asal menuduh. Wiranto mengklaim melakukan berbagai langkah agar kerusuhan yang terjadi pada 13 hingga 15 Mei 1998 tak meluas.
[Gambas:Video CNN] (psp/osc)