Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB Wisnu Widjaja mengatakan hal ini dilakukan sebagai bagian dari upaya memberi informasi kepada masyarakat soal bahaya sesar itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wisnu mengaku tidak mungkin memaksa masyarakat untuk langsung pindah dari tempat tinggalnya yang rawan bencana. Upaya peringatan ini diharapkan membuat masyarakat lebih waspada dan melakukan upaya mitigasi mandiri.
"Makanya inisiatifnya, dan sudah dilaporkan ke Presiden juga, tempat-tempat yang berbahaya seharusnya diberi tanda. Jadi [warga] akan familiar dengan adanya tandatanda ancaman longsor, ancaman patahan, dan sebagiannya. Ini yang akan kami lalukan," terangnya.
Selain tanda rawan bencana, pihaknya juga mendorong masyarakat untuk mengakses aplikasi Inarisk yang berisi peta daerah rawan bencana.
Sebelumnya, Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Eko Yulianto mengatakan masih banyak bangunan di atas jalur sesar. Misalnya, bangunan untuk tempat wisata.
"Di sepanjang sesar Lembang ini ada tempat wisata dan tempat yang penting. Bahkan ada hotel mewah yang berdiri tepat pada garis sesar dan itu diizinkan oleh pemerintah kabupaten atau provinsi," kata Eko di kantor LIPI, Jakarta Selatan pada Oktober 2018.
[Gambas:Video CNN] (ani/arh)