Menurutnya infrastruktur ini akan sia-sia jika pembangunannya tidak memerhatikan perekonomian lain, misalnya pangan dan pembangunan masyarakat yang tak terbantu.
Meski jalan bagus, kata Prabowo jika tak ada dukungan lain seperti energi untuk bahan bakar maka jalan tersebut tak bisa digunakan dan hanya akan berakhir sia-sia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Ma'ruf Amin: Jangan Ada Hoaks di Antara Kita |
Prabowo mengatakan, saat ini Indonesia tengah dikejar tantangan lain terkait ledakan penduduk. Dari data yang dia terima setiap tahun ada 5 juta kehamilan yang terjadi di Indonesia.
"Saya dikasih angka tiap tahun ada yang hamil 5 juta. 5 juta kehamilan. Kita kalau 1 persen atau 2 persen atau 7 persen yang gagal kehamilan itu sudah sangat tinggi. Tapi berarti kelahiran tiap tahun bisa terjadi 4 juta lebih. 4,5 juta lebih," katanya.
Atas data ini menurut dia setiap tahun Indonesia memiliki tambahan 'mulut' baru yang mesti diberi makan. Atau menurut perhitungannya selama lima tahun ada kurang lebih 20 juta warga negara baru di Indonesia yang perlu diberi makan hingga kebutuhan lain, seperti sekolah, kesehatan, hingga pemukiman.
"Mulut baru harus kita santuni, harus kita siapkan. Tiap tahun. Dalam lima tahun berarti 20 juta warga negara Indonesia baru, 20 juta orang butuh tambahan makanan, butuh sekolah, butuh rumah sakit," katanya.
Dia pun menyebut, pemimpin saat ini harusnya berpikir untuk 40 hingga 50 tahun ke depan. Tak hanya perkara infrastruktur tetapi juga memikirkan kelangsungan hidup masyarakatnya.
"Jadi pemimpin sekarang harus mikir 40 tahun sampai 50 tahun ke depan. Jangan mikir untuk diri kita sendiri. Kalau ketimpangan ekonomi biasanya terjadi huru-hara. Orang yang tidak makan masa dia mau nunggu tidak makan?" kata Prabowo.
"Ini United Nation (PBB). Kalau kita lihat, ketimpangan Indonesia, cara pandang (saya) ini hampir sama dengan PBB. Mereka punya konsep water, energy, food. Bayangkan, berarti saya sudah sejalan dengan PBB. Pangan, energi, water. Ya kan," katanya. (tst/rea)