Munas Alim Ulama NU menyarankan agar warga negara Indonesia yang bukan beragama Islam tidak lagi disebut sebagai kafir, melainkan muwathinun atau warga negara. Banyak pihak yang tidak sepakat atas hal itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Zainut, alangkah baiknya jika semua pihak berbaik sangka dan berpikir positif mengenai hal tersebut. Sikap toleransi terhadap berbagai hasil ijtihad kolektif kelompok lain juga harus dipegang teguh. Apalagi jika perbedaan yang ada tidak berkutat pada masalah pokok dalam agama Islam (ushuluddin).
Wakil Presiden Jusuf Kalla menutup Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar, Kota Banjar, Jawa Barat, Jumat (1/3). (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan) |
"Untuk hal tersebut MUI mengajak kepada semua pihak untuk terus menjaga persaudaraan keislaman (ukhuwah Islamiyah) dan persaudaraan kebangsaan (ukhuwah wathaniyyah) demi mewujudkan Islam yang rahmatan lil alamin," imbuh Zainut.
Sebelumnya, Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (NU) menyarankan agar Warga Negara Indonesia yang beragama non-Muslim tak lagi disebut sebagai kafir. Kata kafir dianggap mengandung unsur kekerasan teologis.
"Karena itu para kiai menghormati untuk tidak gunakan kata kafir tetapi muwathinun atau warga negara, dengan begitu status mereka setara dengan WN yang lain," kata Pimpinan Sidang Komisi Bahtsul Masail Maudluiyyah, Abdul Moqsith Ghazali, di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar, Banjar, Jawa Barat, Kamis (28/2).
Moqsith mengatakan bahwa sarannya itu bukan untuk menghapus istilah kafir dalam Alquran maupun hadis. Menurut Moqsith, keputusan sidang komisi tersebut merupakan sikap teologis NU terhadap kondisi saat ini.
"Memberikan label kafir kepada WNI yang ikut merancang desain negara Indonesia rasanya tidak cukup bijaksana," ujarnya.
[Gambas:Video CNN] (bmw/arh)
Wakil Presiden Jusuf Kalla menutup Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar, Kota Banjar, Jawa Barat, Jumat (1/3). (