Para personel TNI Satgas Gakkum itu diserang ketika hendak melakukan pengamanan pergeseran pasukan yang akan melaksanakan pengamanan pembangunan infrastruktur Trans Papua Wamena-Mumugu, Nduga, Papua.
"Pasukan TNI Satgas Gakkum kekuatan 25 orang tersebut baru tiba di Distrik Mugi dalam rangka mengamankan jalur pergeseran pasukan, tiba-tiba mendapatkan serangan mendadak," ujar Kepala Penerangan Kodam XVII/Cendrawasih Kolonel Infanteri Muhammad Aidi dalam keterangan tertulis, Kamis (7/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara dari pihak KKSB prajurit TNI berhasil merampas lima pucuk senjata yang hingga saat ini jenisnya masih dalam penyelidikan, serta satu jasad yang diduga anggota KKSB.
"Dan diperkirakan setidaknya 7-10 orang anggota KKSB juga tewas namun mayatnya berhasil dibawa kabur oleh teman-temannya," ujarnya.
"Pasukan TNI membalas tembakan sehingga heli berhasil mendarat dan proses evakuasi dapat dilaksanakan dalam keadaan aman," ujar Aidi.
Atas kejadian itu, Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Yosua Pandit Sembiring menyampaikan jajarannya turut berduka atas gugurnya ketiga prajurit tersebut. Yaosua menilai serangan itu membuktikan KKSB menjadi beban masyarakat Papua yaang sebenarnya.
"Mereka tidak segan membunuh aparat dan warga sipil yang tidak mendukung mereka," ujar Yosua.
Juru bicara TPNPB Sebby Sambom menuturkan kontak senjata terjadi usai pernsoel TNI membakar lima honai milik warga. Sebelum pembakaran, ia menyebut delapan personel TNI mengintrogasi warga bernama Amos Kogeya dan istrinya.
"Maka pasukan TPNPB mengepung delapan anggota militer Indonesia tersebut tersebut dan terjadi kontak senjata. Dan terjadi saling kejar kejar-mengejar membuat lima anggota militer Indonesia mengalami kelelahan dan pasukan TPNPB berhasil melumpukan dan merebut empat pujuk senjata," ujar Sebby dalam keterangan tertulis.
Usai penyerangan itu, Sebby menyampaikan TPNPB melihat dua helikopter yang masuk ke kawasan Nduga untuk mengevakuasi persnoel TNI yang kemudian ditembaki oleh TPNPB. (jps/osc)