Hal ini disampaikan Soleman saat menjadi saksi meringankan bagi Irwandi dalam kasus suap di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (11/3).
"Dia bangun trust (kepercayaan). Tanpa itu, tidak mungkin kita jalankan perjanjian itu," ujar Soleman.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari data yang dimiliki TNI, jumlah senjata yang dimiliki GAM adalah 400 pucuk senjata campuran. Namun atas pengakuan Irwandi sebagai petinggi GAM, jumlahnya ternyata mencapai 1.065 pucuk senjata campuran.
"Irwandi melihat satu per satu. Ternyata senjata masih bisa bekerja dengan baik sampai kaca matanya pecah," katanya.
Soleman Ponto. (CNN Indonesia/Prima Gumilang) |
Sementara itu salah satu mantan petinggi GAM yang juga bersaksi, M Nur Djuli mengaku awalnya sempat kecewa mengetahui Irwandi tersandung kasus suap dan gratifikasi yang ditangani KPK.
"Banyak (kombatan GAM) yang datang ke saya lewat email atau whatsapp. Saya minta sabar, itu yang selalu saya coba," tuturnya.
Djuli menyatakan, sudah menjadi tanggung jawabnya untuk meredam emosi para kombatan GAM tersebut. Ia meminta agar mereka menunggu hasil akhirnya di pengadilan.
"Jadi ini menjadi tugas kami untuk menenangkan Jangan gegabah, sebab mudah sekali mencetuskan emosi yang tidak sehat," katanya.
Dalam perkara ini, Irwandi didakwa menerima suap sebesar Rp1,05 miliar dalam kasus korupsi DOKA tahun 2018. Uang itu diterima secara bertahap yakni sebesar Rp120 juta, Rp430 juta, dan Rp500 juta.
Uang itu diberikan agar Irwandi mengarahkan Unit Layanan Pengadaan (ULP) Pemerintah Provinsi Aceh memberikan persetujuan terkait usulan Bupati Bener Meriah Ahmadi. Sebelumnya, Ahmadi mengusulkan kontraktor yang akan mengerjakan kegiatan pembangunan di Kabupaten Bener Meriah.
(psp/gil)
Soleman Ponto. (CNN Indonesia/Prima Gumilang)