"Tentu saja saya sangat bisa menjawab dan melawan 'pembunuhan karakter' dari Pak Agum Gumelar terhadap saya tersebut. Tetapi tidak perlu saya lakukan, karena saya pikir tidak tepat dan tidak bijaksana. Saya malu kalau harus bertengkar di depan publik," kata SBY dalam surat untuk internal Partai Demokrat yang dibenarkan oleh Ketua DPP Demokrat Jansen Sitindaon, Jumat (15/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Apalagi polarisasi dalam kontestasi pilpres kali ini boleh dikatakan lebih keras dan ekstrem, ditambah jarak yang makin menganga antar identitas dan kelompok politik," ujar dia.
Dalam sebuah diskusi, Agum menyebut Prabowo diberhentikan oleh Dewan Kehormatan Perwira pada 1998 karena bersalah dalam kasus penculikan dan penghilangan paksa aktivis reformasi.
Saat itu SBY termasuk salah satu anggota yang turut menandatangani rekomendasi pemberhentian Prabowo. Agum mengaku heran dengan sikap SBY saat ini yang justru mendukung Prabowo.
"Tanda tangan semua. Soebagyo HS tanda tangan. Agum Gumelar tanda tangan, SBY tanda tangan. Yang walaupun sekarang ini saya jadi heran, ini yang tanda tangan rekomendasi kok malah sekarang mendukung. Tak punya prinsip itu orang," kata Agum dalam sebuah diskusi yang rekamannya yang diunggah di Facebook Ulin Ni'am Yusron.
[Gambas:Video CNN] (bmw/wis)