Diketahui, Agum mempertanyakan sikap politik koleganya itu yang mendukung Prabowo Subianto di Pilpres 2019, padahal dulu SBY menjadi salah satu yang meneken pemecatan Prabowo oleh Dewan Kehormatan Perwira (DKP).
"Nampaknya Ibu Ani merasa tidak happy dengan kata-kata Pak Agum yang menghina saya sebagai tidak punya prinsip," kata SBY dalam surat untuk internal Partai Demokrat yang dibenarkan oleh Ketua DPP Demokrat Jansen Sitindaon, Jumat (15/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut SBY, Ani menyayangkan kritikan yang dilontarkan Agum karena mereka memiliki hubungan kekeluargaan yang baik.
Diketahui, Agum dan SBY adalah mantan jenderal TNI yang pernah menjadi anggota Dewan Kehormatan Perwira (DKP). DKP dibentuk pada 1998 oleh Panglima ABRI saat itu, Jenderal Wiranto untuk mengusut kasus penghilangan paksa sejumlah aktivis yang menyeret Prabowo selaku Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus kala itu.
Dalam rekaman sebuah diskusi Agum mengkritik dukungan SBY kepada Prabowo lantaran SBY termasuk salah satu dari tujuh anggota DKP yang ikut menandatangani surat rekomendasi berisi pemecatan terhadap Prabowo.
"Tanda tangan semua. Soebagyo HS tanda tangan. Agum Gumelar tanda tangan, SBY tanda tangan. Yang walaupun sekarang ini saya jadi heran, ini yang tanda tangan rekomendasi kok malah sekarang mendukung. Tak punya prinsip itu orang," kata Agum dalam sebuah diskusi yang diunggah Ulin Yusron di akun Facebooknya, Senin (11/3).
Selain SBY dan Agum, DKP juga beranggotakan jenderal lain seperti Letjen Djamari Chaniago, Letjen Fachrul Razi, Letjen Yusuf Kartanegara, Letjen Arie J Kumaat, serta Jenderal Subagyo Hadi Siswoyo sebagai Ketua DKP.
[Gambas:Video CNN] (ani/osc)