"Pernyataan Sandi itu indah di atas kertas tapi tidak menginjak bumi. Indah secara konseptual tetapi belum terlihat secara operasional bagaimana implementasi," ujar Emrus di Restoran Gado-Gado Boplo, Jakarta, Rabu (20/3).
Emrus mencontohkan gagasan Sandi yang tidak konkret dalam debat, yakni mengenai penghapusan Ujian Nasional. Ia melihat niatan Sandi mengganti UN dengan penelusuran minat dan bakat terlalu mengawang karena tidak ada penjelasan secara operasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Selama ini lembaga riset itu tersebar di kementerian-kementerian tidak terlihat hasilnya. Kalau itu disatukan dan dikelola dengan baik akan terlihat hasilnya. Bukankah itu lebih kongkret," ujarnya.
Selanjutnya, Emrus menilai gagasan Sandi mengintegrasikan kartu sakti yang dibuat Presiden Jokowi menjadi satu kartu, yakni dengan e-KTP pun tidak konkret. Selain sulit terealisasi, ia menilai Sandi lagi-lagi tidak menjelaskan operasional gagasan itu.
"Lalu teknologi apa yang akan digunakan. Itu juga tidak dijelaskan oleh 02," ujar Emrus.
Berkaitan dengan e-KTP diintegrasikan dengan KIP hingga KIS, ia berkata amat berisiko. Sebab, ia berkata semua orang yang memiliki bisa mengklaim layak menerima bantuan.
"Nanti semua orang dapat kucuran bantuan, tidak ada yang kerja dong. Malah bisa anggaran kita terkuras, karena semua yang punya KTP dapat bantuan," ujarnya.
Lebih dari itu, ia menyatakan swing voter tidak terpengaruh dengan gagasan yang disampaikan Sandi. Ia berkata swing voter dalam pemilu merupakan pemilih rasional.
"Jadi kalau konsepnya tidak rasional ya mereka tidak akan tertarik," Emrus (pjs/age)