Analisis

Manuver Erwin Aksa, Politik Lawas Golkar Cari Aman di Pilpres

CNN Indonesia | Kamis, 21/03/2019 07:57 WIB
Manuver Erwin Aksa, Politik Lawas Golkar Cari Aman di Pilpres Manuver Erwin Aksa dukung Prabowo dinilai sebagai strategi Golkar amankan posisi di pilpres. Pengamat menilai politik Golkar ini sudah sejak dulu diterapkan. (Foto: Detikcom/Julius Bramanto)
Jakarta, CNN Indonesia -- Politikus Golkar Erwin Aksa secara mengejutkan memberi dukungan kepada pasangan capres-cawapres 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Pilpres 2019. Dukungan itu bertolak belakang dengan kebijakan Golkar yang memutuskan berada di kubu Joko Widodo-Ma'ruf Amin di Pilpres 2019.

Erwin mengaku tidak ada masalah dengan Golkar sehingga memutuskan tidak mendukung Jokowi-Ma'ruf. Ia menyampaikan alasannya mendukung paslon 02 karena bersahabat dengan Sandiaga.

Buntut dari tindakannya, Erwin memilih untuk nonaktif dari kepengurusan partai hingga Pilpres 2019 selesai. Golkar merespons pilihan Erwin dengan menunjuk orang lain mengisi jabatanya di kepengurusan partai.


Pengamat politik Ujang Komarudin menilai secara politik dukungan Erwin tidak akan memberi pengaruh signifikan bagi elektabilitas Prabowo-Sandi. Ia menyebut tindakan Erwin serupa dengan sejumlah politisi Golkar saat Pilpres 2014.


Kala itu, beberapa politisi Golkar seperti Agus Gumiwang Kartasasmita dan Nusron Wahid memilih mendukung Jokowi-Kalla, padahal Golkar sendiri mendukung Prabowo-Hatta Rajasa.

"Sebenarnya tidak terlalu berpengaruh karena Golkar itu sudah biasa. Dulu juga begini, kan," ujar Ujang kepada CNNIndonesia.com, Rabu (20/3).

Ujang mengatakan gaya politik Golkar di mana kadernya berbeda pilihan dalam pemilu itu sudah ada sejak dulu. Ia menduga hal itu sebagai strategi Golkar untuk mengamankan posisi jika pilihan politik formalnya gagal menang.


Dengan keberadaan Erwin di kubu Prabowo dan partai secara formal berada di kubu Jokowi, Golkar bisa lebih mudah mengamankan kekuasaan. Dia menganalogikannya dengan istilah "Jangan simpan telur di keranjang yang sama".

"Ketika Erwin Aksa ada di Prabowo atau Pak Jusuf Kalla di Jokowi, siapapun katakanlah yang menang kan (Golkar) aman," kata Ujang.

Manuver Erwin Aksa, Politik Lawas Golkar untuk Cari AmanKetua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto (kanan) dan Bendahara Umum Robert Joppy Kardinal saat lokakarya Kampanye dan Bimbingan Teknis Sistem Dana Kampanye Pemilu 2019 Golkar di Jakarta. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
Ujang mengatakan yang terjadi pada Golkar juga dilakukan oleh politisi senior. Ia menyebut banyak politisi senior yang menjadi kepala daerah dan menjadi pimpinan cabang menempatkan keluarganya di partai lain.

Misalnya, Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo yang menjadi politisi NasDem dan anaknya di PPP. Ada pula mantan Gubernur Banten Ratu Atut sebagai politikus Golkar, tapi anaknya di PDIP.

Serupa dengan Golkar, tindakan itu dilakukan untuk mengamankan kekuasaan politik trahnya.

"Jadi begitu satu kalah, yang satu menang. Yang satu kalah, yang satu menang. Dan memang itu selalu aman dan bagian dari strategi yang sah tidak melanggar undang-undang," ujarnya.


Selain untuk kepentingan partai, Ujang menilai dukungan yang diberikan Erwin kepada Prabowo-Sandi bisa terjadi karena kepentingan pribadinya tidak terakomodasi partai.

Ia menyebut Erwin sempat bakal dipromosikan menjadi wakil gubernur DKI Jakarta menggantikan Sandiaga yang maju menjadi cawapres. Sementara jatah Wagub DKI merupakan milik PKS.

"Di politik, siapapun politisi jika tidak nyaman bekerja atau tidak terakomodir pasti akan pindah pilihan. Itu hal yang wajar dan terjadi di setiap pilpres dan pemilu, serta berlaku pada politisi," ujarnya.

Ia pun menegaskan latar belakang pengusaha juga bisa jadi mempengaruhi Erwin mengambil pilihan politik tersebut. Saat ini, pengusaha tidak lagi hanya menjadi aktor di belakang layar yang memberi dukungan logistik.

Manuver Erwin Aksa, Politik Lawas Golkar untuk Cari AmanPrabowo-Sandi menyampaikan pidato kebangsaan di Jakarta, Senin (14/1/2019). (ANTARA FOTO/Galih Pradipta)
Pengamat politik lainnya, Emrus Sihombing memprediksi Erwin tidak akan memberi pengaruh yang signifikan bagi peningkatan elektabilitas Prabowo-Sandi. Sebab, ia mengatakan Erwin bukan sosok yang memiliki basis massa yang kuat dan banyak.

"Kalau basisnya tidak terlalu banyak, tidak berpengaruh," ujar Emrus kepada CNNIndonesia.com.

Ia menilai ketidakpatuhan politisi terhadap instruksi partai bagian dari pragmatisme politik. Menurutnya, pragmatisme itu semakin terbuka ketika dinamika dan garis politik partai tidak mampu mengakomodasi kepentingan politisi yang berpindah.

"Tetapi tindakan berpindah dukungan dalam ilmu politik bahwa itu pasti tidak ada makan siang yang gratis. Bisa saja di tempat tertentu itu ketika dia berpindah mendapat makan siang yang enak," ujarnya.


Ia menyampaikan tindakan politisi berbeda dukungan dengan partai harus dihentikan. Jika perpindahan yang disasar adalah pemilih mengambang, ia mengaku tidak akan optimal di sisa masa waktu yang semakin sempit.

"Kalau kita pakai teori spiral of silence, biasanya mereka yang belum mengambil keputusan akan mengikuti ke mana mayoritas masyarakat memilih," ujar Emrus.

Pada Rabu (20/3) lalu, Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto secara resmi memberhentikan Erwin Aksa dari kepengurusan DPP Partai Golkar sebagai Ketua Bidang Koperasi dan UKM. Keputusan itu berkaitan dengan sikap Erwin yang mendukung pasangan Prabowo-Sandidi Pilpres 2019.

Erwin menyatakan dukungannya pada Prabowo-Sandi sebagai pilihan pribadi. Ia mengklaim tak pernah menggunakan atribut Partai Golkar saat mendukung pasangan calon nomor urut 02 itu.

"Terkait pilihan saya untuk calon presiden dan calon wakil presiden 2019-2024, perlu saya sampaikan bahwa memang betul saya mendukung pasangan calon nomor urut 02 Prabowo-Sandi," ujar Erwin melalui keterangan tertulis, Selasa (19/3). 
[Gambas:Video CNN] (jps/pmg)