Kepala Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Firman Noor menilai hal itu disebabkan oleh fenomena migrasi pemilih, baik dari pendukung Jokowi yang mengubah dukungan mereka, atau para undecided voters (pemilih yang belum menentukan pilihan) dan swing voters yang telah memantapkan pilihan mereka pada paslon 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.
"Berdasarkan kajian Kompas terakhir misalnya, menangkap adanya pola migrasi preferensi di enam bulan terakhir, dengan salah satu kesimpulannya adalah tren keterpilihan Jokowi-Ma'aruf yang menurun dan sebaliknya tren dukungan terhadap Prabowo-Sandi yang meningkat," kata Firman dalam diskusi politik 'Migrasi Suara Pilres 2019: Hasil Survei VS. Realita' di Jakarta, Minggu (24/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Firman memaparkan penurunan elektabilitas paslon 01 bisa terjadi karena beberapa faktor. Faktor pertama adalah ketidakpuasan.
Menurut Firman, persoalan kesejahteraan seperti daya beli masyarakat dan ketersediaan pekerjaan menjadi hal yang berpotensi memicu perubahan pilihan pada pemilih untuk tak lagi mendukung petahana.
Sementara itu, keberadaan Sandi yang mencerminkan tokoh pemuda santun, bersahaja, gaul, dan sukses dinilai Firman bisa melengkapi citra positif Prabowo.
"Dalam satu kesempatan Prabowo bahkan mau berjoget di mana sejauh ini kita tidak pernah melihat sosok beliau yang seperti itu. Jika saat ini terdapat pergeseran positif bagi paslon 02, sesungguhnya ini mengindikasikan meningkatnya citra positif pasangan tersebut di mata masyarakat," kata Firman.
Selain itu, Firman menilai migrasi suara biasanya terjadi karena program yang ditawarkan kandidat lain dirasa lebih realistis dan relevan dengan masyarakat.
Firman juga menekankan migrasi suara bisa terjadi akibat mesin politik seperti partai pendukung dan jaringan relawan yang terus bergerak tanpa batas untuk meyakinkan para pemilih. Menurutnya gerakan rewalan masing-masing kubu paslon berpengaruh besar menarik dukungan terutama bagi para undecided voters dan swing voters.
"Bahkan menurut saya kerja tim sukses dan parpol itu tidak semilitan para jaringan relawannya. Jaringan relawan di pelosok terbukti bekerja lebih militan dan luas lagi untuk meraih para pemilih yang tak terjangkau," kata Firman.
Hal itu juga diakui pendiri sekaligus Direktur Rumah Demokrasi, Ramdansyah. Dia menganggap jaringan relawan dan simpatisan paslon 02 lebih militan dalam mempromosikan kandidat dukungannya.
Menurut dia, kaum emak-emak bahkan semakin hari semakin emosional dan militan. Kaum tersebut ibaratnya menjadi identitas politik tersendiri bagi lawan petahana.
[Gambas:Video CNN] (rds/lav)