"Karena itu jangan menentukan harga mikir 17 April, jangan. Jangan menentukan harga mikir kepuasan hari ini," kata Anies di Kantor Wali Kota Jakarta Barat, Selasa (26/3).
Diketahui, Pemprov DKI sempat mengajukan tarif sebesar Rp10 ribu per 10 kilometer untuk menggunakan MRT. Uang ini disebut Anies nantinya bukan hanya untuk biaya operasional, melainkan untuk mengembangkan MRT di masa yang akan datang sebagai bentuk investasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemprov dan DPRD DKI masih menggodok tarif final MRT. Kemarin pada saat rapat, DPRD DKI dan BUMD menyepakati tarif MRT sebesar Rp8.500 dan LRT sebesar Rp5.000.
Anies kembali menegaskan agar penetapan tarif MRT tidak dipolitisasi meski peresmiannya mendekati hari pemungutan suara Pilpres 2019.
"Kebetulan diselenggarakannya 3 minggu sebelum pemilu, tapi jangan pengambilan keputusannya karena mau pemilu. Ini adalah keputusan yang terkait dengan keputusan jangka panjang," ucap dia.
Lihat juga:Pengamat Nilai Tarif MRT Rp8.500 Masih Mahal |
"Memang MRT itu direncanakan untuk persoalan pemilu? Kan enggak. Jadi jangan terlalu pendek berpikir. Sehingga kita berpikir Jakarta ini, perlu komprehensif tidak bisa sepotong begitu," kata Gembong.
Menurut Gembong, angka Rp8.500 yang sudah ditetapkan DPRD merupakan keputusan eksekutif dan legislatif dalam rapat. Gembong menyebut kedua pihak hadir tanpa interupsi penyanggahan soal tarif.
"Itu kan keputusan dua belah pihak, bukan DPRD, tapi eksekutif dan legislatif. Kalau katakan tidak sepakat harusnya eksekutifnya bicara dong. Jangan barang sudah diputuskan jadi begini, kan enggak fair," tutur dia. (ctr/osc)