Jika keberadaan Banser mengawal TPS adalah menjaga keamanan pemilu, kata dia, itu bukan masalah. Afifuddin mengimbau terpenting tidak ada upaya melarang atau menyudutkan pemilih untuk mencoblos caleg maupun capres tertentu di kotak pemungutan suara.
"Yang pasti tidak boleh ada intimidasi di sekitar TPS. Nah situasi apa yang dimaksud dengan (kehadiran Banser) di TPS nanti, kan belum tahu, baru kita tahu nanti (saat pemilu)," ujar Afifuddin di Kantor Bawaslu, Jakarta, Selasa (26/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Afifuddin kembali mengingatkan agar suasana penyelenggaraan pemilu di TPS harus menyenangkan untuk semua pemilih. "Harapan kita ya situasi di TPS benar-benar menyenangkan, benar-benar tidak ada ketegangan ya," ujarnya.
"Maknanya adalah kalau partisipasi masyarakat meningkat dari seluruh peserta pemilu nongkrongin TPS, apapun hasilnya tidak bisa diduga macam-macam," ucap Viryan saat ditemui di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (26/3).
Ketua umum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas. (CNN Indonesia/Hesti Rika) |
Sebelumnya, tagar #BanserAmankanTPS menjadi trending topic di Twitter. Video yang menayangkan Ketua GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas menyerukan Banser untuk mengawal TPS. Mereka sebut gerakan ini sebagai Rabu Putih.
Yaqut meresmikan sendiri gerakan ini saat Rapat Koordinasi Nasional yang diikuti seluruh Ketua Pimpinan Wilayah GP Ansor seluruh Indonesia di Bojonegoro, Jawa Timur, kemarin.
Selain memutihkan TPS, kader Ansor juga diminta mencoblos calon presiden dan wakil presiden yang berbaju putih di bilik suara. Hal itu disebut Yaqut sebagai upaya mengadang gerakan atau kelompok yang menolak NKRI.
"... untuk memutihkan TPS-TPS yang ada, untuk kita pilih calon presiden dan wakil presiden yang berbaju putih. Berani?" kata Yaqut dalam orasi yang direkam dan beredar di media sosial Twitter.
[Gambas:Twitter] (dhf/ain)
