Bocah yang juga jemaat Gereja Kristen Injili Indonesia (GKKI) ini menjadi saksi kunci setelah sempat dikira tewas oleh dua pelaku yang belum diketahui identitasnya.
Arisman Manai, salah satu rekan vikaris korban di GKKI Sungai Baung mengatakan jemaat GKKI mengetahui korban dibunuh setelah NPR berlari ketakutan dari tempat kejadian perkara (TKP).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami khawatir, biasanya setelah ke pasar sore sudah pulang ke gereja. Kami mulai mencari di sekitar kawasan gereja. Tapi pukul 23.00, NPR pulang jalan kaki, kondisinya ketakutan. Punggungnya banyak luka goresan seperti diseret," ujar Arisman ditemui di Instalasi Forensik RS Bhayangkara.
"Sepertinya mereka niat membunuh NPR. Tapi dia hanya pingsan saat dicekik. Malam dia baru sadar, lihat Melinda sudah meninggal, makanya NPR lari ke gereja memberitahu kami. Mungkin dapat mukjizat dari Tuhan ternyata ikatan tangan NPR lepas jadi bisa kabur ke gereja," ujar dia.
Usai NPR tiba di gereja dan memberitahukan kondisi Melinda, jemaat gereja pun segera mencari jenazah Melinda di sekitar lokasi. Berjarak 300 meter dari sepeda motor yang dikendarainya, Melinda ditemukan tak lagi bernyawa dengan kondisi tidak mengenakan celana dan pakaiannya terbuka.
Tangan dan kaki Melinda dalam kondisi terikat karet ban dalam dan di leher korban ada bekas jeratan.
"Motornya masih ada, tidak diambil oleh pelaku. Tapi ponselnya hilang. NPR sekarang masih trauma, setiap diajak ngobrol dia nangis," kata Arisman.
"Kita tunggu dulu kondisi saksi stabil, apalagi masih anak-anak, sangat rentan," ujar dia.
Berdasarkan keterangan sementara dari NPR, pelaku berjumlah dua orang berperawakan kurus dan menyamarkan wajah dengan menutupinya menggunakan kain sarung warna hitam.
"Kita masih kembangkan kasusnya dan kita buru dua pelaku ini yang sementara masih buron. Motif belum diketahui," ujar dia. (idz/osc)