Aria menilai pernyataan Amien itu sangat sensasional dan imajinatif karena penuh kecurigaan, apabila penghitungan suara dilakukan di Hotel Borobudur akan terjadi kecurangan.
"Ini yang saya kira imajinasi-imajinasi Pak Amien Rais yang sangat sensasional, yang imajiner, yang bayangan dia masih pemilu di tahun 70 atau 80. Enggak relavan," kata Aria di Kompleks MPR/DPR, Jakarta, Rabu (27/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, Aria menyakini proses penghitungan suara di Pemilu 2019 ini tak akan ada celah untuk melakukan kecurangan. Sebab berbagai metode pengawasan seperti adanya saksi tiap paslon yang hadir berjenjang mulai tingkat TPS hingga ke tingkat pusat dianggapnya mampu meminimalisir kecurangan dalam perhitungan suara.
"Lalu bisa juga begitu selesai penghitungan di TPS, dokumen itu bisa langsung difoto pakai smartphone dan itu bisa langsung dikirim ke Facebook ke IG ke Twitter ke timsesnya," kata dia.
"Jadi mau di KPU, mau di tengah Lapangan Banteng atau di Borobudur, kalau perlu di rumahnya Pak Amien Rais saja, ya ndak ada soal," kata dia.
Sebelumnya, Amien menolak penghitungan suara di Hotel Borobudur karena curiga bakal terjadi kecurangan. Ia menyebut kecurangan itu diperbuat oleh pihak yang dia analogikan sebagai jin dan genderuwo.
"Selain DPT harus segera dibenahi, besok penghitungan hasil pemilu jangan pernah di Hotel Borobudur. Mereka banyak jin banyak genderuwo di sana," ujar Amien saat ditemui di Kompleks Senayan, Jakarta, Selasa (26/3). (rzr/osc)