Bowo diduga menerima suap dan gratifikasi untuk 'serangan fajar' dalam 400 ribu amplop berisi pecahan Rp20 ribu dan Rp50 ribu dengan total Rp8 miliar jelang Pemilu 17 April. Di bagian luar amplop disebut tertera gambar cap jempol.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mardani menyatakan 400 ribu amplop jumlah yang melebihi batas wajar memenangkan Pemilihan Legislatif.
Namun, politikus Partai Keadilan Sejahtera ini tak mau masyarakat atau pihak tertentu langsung menyimpulkan amplop itu untuk pemenangan capres tertentu. Menurutnya, politik uang musuh bersama dalam dunia politik.
Oleh sebab itu, ia tak mau berandai-andai pasangan Jokowi-Maruf terdiskualifikasi akibat permasalahan itu, karena memerlukan penelusuran lebih lanjut--termasuk kerja sama antara KPU, Bawaslu, dan KPK, untuk membuktikannya.
"Saya tidak mau berpikir ke situ. Karena siapa tahu bukan hanya pihak sana, siapa tahu pihak-pihak sini juga ada. Makanya bongkar saja. Ini bukan musuh 01 atau 02 saja. Ini musuh bersama," kata Mardani.
Sebelumnya, Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan menyatakan tidak ada cap jempol atau indikasi amplop tersebut untuk "serangan fajar" terkait pilpres.
Berdasarkan pengakuan Bowo Sidik, amplop itu disiapkan untuk kepentingan pribadi sebagai caleg.
[Gambas:Video CNN]
(chr/ard)