Hanif menjelaskan bahwa serbuan itu tidak akan terjadi karena jajaran pemerintahan Jokowi saat ini sudah memiliki sejumlah cara untuk mengendalikan jumlah TKA.
Ia lantas menyebutkan beberapa contoh cara tersebut, di antaranya prosedur masuk TKA yang ketat dalam hal izin kerja, izin tinggal, dan persyaratan pendidikan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bayangkan kalau menggunakan banyak, mahal dong dari sisi biaya," ujarnya.
"Di negara-negara lain, jumlah TKA-nya lebih besar. Lihat Singapura, Singapura itu lebih dari seperempat penduduknya merupakan pekerja asing. Qatar dan Uni Emirat Arab memiliki jumlah TKA yang melebihi jumlah penduduknya," ujarnya.
Menurut Hanif, isu TKA menjadi panas karena kepentingan politik, padahal informasi yang beredar bisa jadi tidak benar. Berdasarkan kajian internal Hanif, intensitas pemberitaan media soal TKA selalu meningkat di musim politik.
[Gambas:Video CNN]
Hanif menyebutkan berita TKA dalam situasi normal hanya berkisar 5 sampai 10 berita per bulan. Namun, pada saat pemilihan kepala daerah DKI Jakarta beberapa tahun lalu, pemberitaan TKA meningkat hingga menyentuh 300 berita per bulan.
"Begitu Pilkada DKI Jakarta berakhir, turun lagi jadi 5 sampai 10 dan begitu mau Pilpres naik lagi. Itu apa kalau bukan politis?" ujarnya. (sfr/has)