Anomali performa Jokowi dan Prabowo terlihat saat membahas isu pertahanan dan keamanan. Prabowo yang notabene mantan Komandan Jenderal Kopassus itu tampil percaya diri sejak awal.
Sementara Jokowi hanya mengulang-ulang data soal alokasi anggaran pertahanan dan keamanan yang ia klaim lebih dari cukup. Anggaran pertahanan diulang-ulang Jokowi untuk menangkis Prabowo yang menyentil soal pertahanan Indonesia rapuh karena anggaran kalah dari Singapura.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara emosi Prabowo terlihat meledak saat Jokowi mencibir dirinya tak percaya TNI karena mengatakan pertahanan rapuh.
"Saya lihat mental Pak Jokowi down karena Prabowo yang selama ini tidak agresif, tidak emosional tiba-tiba gas. Mungkin ini memengaruhi dan membuat mental Jokowi jatuh," ujar Pangi saat dihubungi CNNIndonesia.com, Sabtu (30/3).
Pangi menilai Prabowo bermain dengan karakter aslinya karena merasa punya kemampuan di bidang pertahanan dan keamanan.
Sementara Jokowi yang terkejut menjadi kurang bisa mengeluarkan performa terbaiknya. Terlihat saat membahas isu pemerintahan.
"Dari awal Jokowi mentalnya sudah dipukul Prabowo. Prabowo tampil lebih agresif dan menyerang Jokowi," tutur dia.
Dihubungi terpisah, pengamat politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Adi Prayitno juga punya pendapat nyaris serupa. Dia menyebut, pada tema pertahanan dan keamanan, Prabowo ingin menunjukkan kemampuannya di bidang militer.
Terlihat dari bagaimana ia berulang kali menyebut pengalamannya di militer. Namun Prabowo terpancing saat disentil soal ketidakpercayaan dengan TNI. Hingga akhirnya dia melontarkan pernyataan bahwa dia lebih TNI dari banyak TNI.
Sementara Adi menilai Jokowi begitu terpukul dengan perubahan gaya bermain Prabowo. Jokowi terlihat lebih menarik diri, khususnya di bidang pertahanan dan keamanan.
Jokowi juga terlihat lebih berpikir dari gelaran-gelaran sebelumnya. Adi menilai gerakan tangan memegang siku dan banyaknya jeda Jokowi sebagai upaya merumuskan respons serangan Prabowo.
"Dia (Jokowi) terlihat berpikir keras untuk menentukan jawaban yang bisa membalikkan keadaan," Adi menjelaskan. (dhf/osc)