"Itu kan sejalan dengan pertumbuhan ekonomi. Jadi enggak bisa dong main naikin aja, nanti goyang dong keseimbangan APBN kita," kata Luhut usai debat Pilpres 2019, di Hotel Shangri-La, Jakarta, Sabtu (30/3).
Luhut menyebut pemerintah telah meningkatkan anggaran pertahanan sekitar 1,5 persen dari produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Ia menilai menaikkan anggaran, termasuk untuk pertahanan tak sesederhana yang dipikirkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pensiunan jenderal bintang empat itu pun mengajak semua pihak untuk memercayai intelijen strategis yang dibuat TNI. Luhut menyatakan berdasarkan intelijen strategis TNI, sampai 20 tahun ke depan belum ada potensi invasi.
Luhut lantas menyinggung soal peristiwa di Timor-Timur, sekarang Timor Leste. Menurut Luhut, yang juga ikut terjun pada 1975, apa yang terjadi di bekas wilayah Indonesia itu bukan invasi melainkan operasi keamanan dalam negeri.
"Jadi perkiraan strategis kami pun tidak salah pada saat itu," ujarnya.
Sebelumnya calon presiden 02 Prabowo Subianto mengkritik anggaran pertahanan Indonesia. Prabowo menyebut kecilnya dana itu mencerminkan rapuhnya pertahanan Indonesia.
Ketua Umum Partai Gerindra itu menyampaikan Indonesia hanya mengalokasikan Rp107 triliun atau 5 persen dari APBN atau 0,8 persen dari pendapatan domestik bruto.
"Padahal Singapura itu anggarannya 30 persen dari APBN, 3 persen dari GDP kita," tutur mantan Komandan Jenderal Kopassus iitu
Calon presiden petahana Joko Widodo memaparkan sudah menggelontorkan Rp107 triliun untuk Kementerian Pertahanan. Ia menyebut jumlah itu sangat besar dan bentuk perhatian negara pada pertahanan dan keamanan.
"Saya optimis dengan penguasaan radar udara dan maritim 100 persen siapa yang masuk akan ketahuan," tutur Jokowi.