Jokowi menganggap tantangan Indonesia berkenaan dengan perkembangan teknologi. Dia mengklaim pemerintah telah memasang belasan radar strategis yang saling terkoneksi.
Prabowo pun sependapat. Namun, menurut dia, alutsista pertahanan dan keamanan juga harus ditingkatkan. Kata dia, pertahanan Indonesia saat ini masih sangat lemah dan jauh dari harapan. Prabowo agak gusar ketika pendukung Jokowi menertawakannya kala berbicara hal itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Ma'ruf Amin: Pertahanan Kita Belum Super |
"Ini sebenarnya bukan soal mana yang urgen dan tidak. Tidak dapat dipertentangkan," kata Khairul saat dihubungi CNNIndonesia.com, Sabtu malam (30/3).
Di sisi lain, menurut Khairul, perang di masa mendatang akan lebih bersifat hibrida dan asimetris. Berangkat dari asumsi itu, dia menilai keliru jika alutsista konvensional diabaikan.
"Apakah ini berarti kesiapan alutsista konvensional tidak prioritas? Tentu prioritas," kata Khairul.
Terkait konflik di dalam negeri, Khairul mengatakan ancaman kedaulatan dari dalam negeri tetap harus diwaspadai. Misalnya, gerakan separatisme atau konflik sosial.
"Masih sangat membutuhkan postur pertahanan keamanan yang kuat, ditandai kesiapan alutsista dan almatsus tadi," ucap Khairul.
Parade Alutsista TNI saat peringatan ke-70 Hari TNI 2015 di Dermaga Indah Kiat, Cilegon, Banten. (CNN Indonesia/Safir Makki) |
Prabowo bersikap demikian bukan semata-mata peduli pada kondisi pertahanan dan keamanan dalam negeri. Adi menyebut Prabowo memang berusaha mengoptimalkan tema debat pertahanan dan keamanan.
"Ingin menunjukkan superioritasnya sebagai mantan tentara, bahkan menyalahkan 01 ini pembisiknya salah," kata Adi.
Adi mengamini bahwa Prabowo sepakat dengan apa yang diutarakan Jokowi. Misalnya terkait pemasangan radar strategis di berbagai wailayah.
Namun, menurut Adi, capres nomor urut 02 itu seolah tampak lebih memprioritaskan pembangunan alutsista. Adi menegaskan Prabowo adalah tentara yang besar di era Orde Baru. Dengan begitu, cara pandangnya pun masih kental ketentaraan gaya lama.
Menurutnya, Prabowo ingin menunjukkan kepada publik bahwa dirinya peduli terhadap sektor-sektor yang harus dilindungi. Meski saat ini era digital dan industrialisasi, Prabowo tetap menganggap alutsista konvensional tidak kalah penting dibanding investasi dan keuntungan ekonomi.
"Pola pikir prabowo memang masih doktrin tentara yang lama," ucap Adi.
[Gambas:Video CNN] (bmw/pmg)
