Peneliti Indo Barometer Hadi Suprapto mengatakan ancaman ini bisa jadi nyata, apabila angka golput khususnya di kalangan pendukung Jokowi-Ma'ruf mencapai 40 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal itu berbanding terbalik dengan kubu Jokowi-Ma'ruf yang mana banyak dari mereka cenderung masih bingung dan belum solid dalam memutuskan pilihan.
Pasangan Prabowo-Sandiaga disebut tak banyak terpengaruh golput karena para pendukungnya lebih solid. (CNN Indonesia/Andry Novelino) |
Ia memaparkan terdapat sejumlah alasan yang membuat pemilih untuk golput. Pertama pemilih masih bingung dengan kedua paslon yang ada. Kedua pemilih malas untuk datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS), ketiga pemilih yang harus bekerja di luar kota. Keempat, pemilih kecewa dengan kedua paslon.
"TKN (Tim Kampanye Nasional Jokowi-Maruf) harus menekan angka golput tersebut, jadi harus kerja keras di sisa waktu yang ada ini," kata Hadi.
Meski Golput mengancam, Jokowi-Ma'ruf masih unggul di berbagai survei.
Indo Barometer mencatat Jokowi-Ma'ruf unggul dengan perolehan suara 50,8 persen atau selisih 18,8 persen dengan pasangan Prabowo-Sandiaga yang mencapai 32 persen.
Selanjutnya di survei Charta Politica, pada awal Maret, Jokowi-Ma'ruf unggul dengan selisih 18,2 persen. Begitu juga dengan hasil survei Vox Populi Jokowi- Ma'ruf unggul dengan selisih 20,5 persen.
[Gambas:Video CNN] (sah/arh)
Pasangan Prabowo-Sandiaga disebut tak banyak terpengaruh golput karena para pendukungnya lebih solid. (