"Diniati atau tidak diniati, people power di era demokratis itu akan melawan people yang lain. Jadi sebagian rakyat melawan sebagian rakyat. Mau kayak gitu? Konflik horizontal," tutur Budiman usai menghadiri acara debat yang dihelat The University of Oxford Society of Indonesia di Graha Bimasena, Jakarta, Jumat (5/4).
Budiman menjelaskan bahwa people power adalah mayoritas masyarakat menginginkan perubahan dari rezim yang otoriter. Satu-satunya yang dilawan oleh people power adalah rezim korup dan otoriter yang menolak berubah secara konstitusional.
Bicara people power di era demokrasi seperti saat ini, lanjutnya, akan mengandung makna berbeda. Budiman menegaskan bahwa saat ini ada dua kubu yang sama-sama memiliki pendukung atau people. Dengan begitu, kedua kubu pun memiliki kekuatan atau power.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau people power di rezim otoriter hanya ada konflik vertikal. Tetapi kalau dalam situasi demokrasi, people power pasti horizontal. Lukanya jauh lebih lama, bisa puluhan tahun itu. lama sekali. Bahaya," kata Budiman.
Amien Rais. (CNN Indonesia/Safir Makki) |
"Juga misalnya jika Prabowo kalah, mereka menolak people power karena dihadapkan pada kekerasan. Jadinya enggak setuju. Bisa saja begitu," kata Budiman.
Amien menyatakan sudah tidak percaya terhadap MK sebagai lembaga yang diamanatkan UU Nomor 7 tahun 2017 tentang Pemilu untuk menyelesaikan sengketa pemilu.
"Kita tidak percaya dengan MK, jadi kayak harus menyelesaikan masalah on our own," katanya di Hotel Ayana MidPlaza, Jakarta, Senin (1/4).
[Gambas:Video CNN] (bmw/ugo)
Amien Rais. (CNN Indonesia/Safir Makki)