"Tekanan-tekanan, ada ajakan, ada rencana untuk mendelegitimasi penyelenggara Pemilu yang kemudian masuk ke people power. Saya kira tidak arif," kata Wiranto ditemui di Hotel Aryaduta, Jakarta, usai bertemu dengan sejumlah pemimpin redaksi media di Indonesia untuk diskusi soal pengamanan Pemilu, Selasa (9/4).
Wiranto juga menyebut sikap mendelegitimasi dengan mengajak atau berencana melakukan sesuatu yang menjurus pada pembentukan ketidakpercayaan terhadap penyelenggara Pemilu ini termasuk ke dalam people power.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena lembaga yang sudah dibentuk ini tugasnya menyelesaikan perselisihan. Persengketaan Pemilu jadi kita harus percaya lembaga itu, kalau sudah tidak percaya berarti kita masuk dalam pelanggaran hukum dan ada aturannya konsekuensinya," kata Wiranto.
Masukan itu terkait bagaimana langkah-langkah untuk menanggulangi penyebaran hoaks, pengamanan Pemilu, hingga menanggulangi banyaknya golongan putih atau golput.
Wiranto pun mengaku dalam pertemuan itu tak ada ajakan atau anjuran kepada pimpinan media untuk membentuk opini berupa ceramah yang dia lakukan. Pertemuan itu kata dia murni berisi pembicaraan seputar pengamanan pemilu.
"Dan banyak masukan yang akan kami tampung dan gunakan untuk sempurnakan langkah kami menuju pencoblosan dan perhitungan," kata Wiranto.
Ketua Dewan Kehormatan PAN, Amien Rais (CNN Indonesia/Andry Novelino) |
Sebelumnya, Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais menyatakan akan mengerahkan people power jika menemukan kecurangan pada penyelenggaraan Pemilu 2019, alih-alih mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK).
"Jika DPT tidak efektif karena penuh dengan ghost voter, Insya Allah setelah Pemilu dan kita punya bukti ada kecurangan yang sistematik saya akan kerahkan massa untuk kumpul di Monas, menggunakan people power," kata Amien di Hotel Ayana MidPlaza, Jakarta, Senin (1/4).
Dalam sistem tata negara, MK telah ditunjuk menjadi lembaga peradilan yang berwenang mengadili sengketa pemilu. (tst/ain)
