Ia mencontohkan hoaks pelarangan azan, penghapusan pendidikan agama, legalisasi perkawinan sesama jenis atau LGBT jika ia kembali terpilih.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nanti Jokowi [kalau] menang pendidikan agama akan dihapus. Hati-hati, itu bohong. Enggak ada pikiran seperti itu. Kedua, kalau Jokowi-Ma'ruf menang azan akan dilarang," ujarnya.
Foto: CNN Indonesia/Timothy Loen |
"Isu lagi ketiga, kalau Jokowi-Ma'ruf menang perkawinan sejenis diperbolehkan. Wapresnya aja kiai haji Ma'ruf Amin, Ketua MUI. Masa bisa seperti itu. Logika enggak masuk, tapi 9 juta orang percaya. Hati-hati tolong diluruskan," Jokowi melanjutkannya.
Sebelumnya, hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) mengungkap bahwa mayoritas responden tak percaya dengan sejumlah kabar bohong alias hoaks soal Jokowi.
Pertama, hoaks Jokowi terkait Partai Komunis Indonesia (PKI). Sebanyak 72,5 persen responden menyatakan tidak setuju dengan hoaks itu, dan 5,6 persen responden setuju. Sebanyak 21,8 persen tak menjawab atau tidak tahu.
Kedua, isu Jokowi kaki tangan Republik Rakyat China (RRC). Mayoritas responden (69,2 persen) menyatakan tak sepakat, 10 persen lainnya setuju dengan hoaks itu, dan 20,7 persen lainnya tak menjawab atau tidak tahu.
Foto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi |
Lewat analisis multivariate SMRC untuk mengetahui dampak relatif kondisi ekonomi, identitas dan mobilisasi identitas serta fake news, ditemukan fakta bahwa fake news lebih terkait dengan pasangan 02.
"Pasangan 01 lebih berhubungan dengan persoalan rasional kondisi ekonomi, sementara pasangan 02 lebih berhubungan dengan identitas, mobilisasi identitas, dan fake news," tulis SMRC, dalam situs resminya.
[Gambas:Video CNN] (uli/arh)
Foto: CNN Indonesia/Timothy Loen
Foto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi