Hal itu dikatakan Prabowo dalam pidato kebangsaan di Surabaya, Jawa Timur, Jumat (12/4). Hadir dalam acara itu Badan Pemenangan nasional (BPN) Prabowo-Sandi serta sejumlah simpatisan dan pendukungnya baik dari akademisi, mantan pejabat, hingga purnawirawan TNI.
Prabowo dengan nada tegas menyatakan tak pernah duduk di belakang meja selama menjadi prajurit. Sebaliknya dia selalu memimpin pasukan di medan perang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekadar diketahui Prabowo Subianto selama berdinas di militer lebih banyak menghabiskan kariernya di Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha/kini Kopassus) sejak 1976. Pada Desember 1995 dia menjabat sebagai Komandan Jenderal pasukan khusus TNI AD tersebut dengan pangkat Letnan Jenderal.
Dihimpun dari berbagai sumber, selama menjabat Danjen Kopassus, Prabowo memimpin sejumlah operasi khusus. Salah satunya dan yang membuat namanya semakin harum ketika memimpin operasi pembebasan sandera Mapenduma. Operasi ini berhasil menyelamatkan sepuluh dari dua belas orang peneliti dalam ekspedisi Lorentz 95 yang diculik oleh gerilyawan Organisasi Papua Merdeka (OPM).
Tiga tahun memimpin Kopassus, Prabowo kemudian diangkat menjadi Panglima Komando Strategis TNI AD (Kostrad) pada 20 Maret 1998.
Tiga bulan kemudian, pada 14 Juli 1998, Prabowo disidang oleh Dewan Kehormatan Perwira (DKP) ABRI yang diisi oleh tujuh jenderal. DKP menyatakan Prabowo terbukti bersalah berdasarkan KUHP dan KUHP Militer melakukan pidana ketidakpatuhan, memerintahkan perampasan kemerdekaan orang lain dan penculikan.
DKP pun resmi memberhentikan Prabowo yang saat itu masih berstatus sebagai menantu Soeharto. (frd/osc)