Senyum Tipis Jokowi Vs Sujud Syukur Prabowo di Pilpres 2019

CNN Indonesia | Kamis, 18/04/2019 16:03 WIB
Senyum Tipis Jokowi Vs Sujud Syukur Prabowo di Pilpres 2019 Prabowo Subianto dan Joko Widodo bertarung di Pilpres 2019. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dua calon presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto berbeda sikap dalam merespons hasil quick count atau hitung cepat Pilpres 2019. Meski belum 100 persen data yang masuk, namun sejumlah lembaga survei menyebut Jokowi-Ma'ruf Amin unggul dari Prabowo-Sandiaga Uno dalam perolehan suara.

Menyikapi itu, kedua pihak paslon sama-sama menggelar konferensi pers. Ada perbedaan pernyataan dan sikap yang nampak dari Jokowi dan Prabowo.

Jika Jokowi sama sekali tak menyinggung dirinya sudah menang berdasar quick count, sebaliknya Prabowo mengklaim dirinya unggul sementara.


Prabowo yakin dirinya menang berdasarkan exit poll yang dilakukan Badan Pemenangan Nasional (BPN). Karenanya, dia menganggap hasil quick count mayoritas lembaga survei tidak benar.


Tak hanya itu, Prabowo sudah berani menyatakan dirinya akan menjadi presiden yang merangkul semua kalangan, termasuk para pendukung lawan. Bahkan, Prabowo bersujud syukur usai konferensi pers bersama sejumlah petinggi BPN.

"Saya sebagai muslim ingin menutup dengan mengumandangkan takbir dan sesudah itu sujud syukur," kata Prabowo di depan rumahnya di Jalan Kertanegara, Jakarta, Rabu (17/4).

Terpisah, Jokowi tidak menunjukkan gelagat gembira yang meluap-luap. Tidak ada pula pernyataan bahwa dirinya pasti akan menjadi presiden selanjutnya. hanya seyum tipis Jokowi yang terlihat di hadapan publik. Padahal, mayoritas lembaga survei menyatakan Jokowi-Ma'ruf unggul sementara.

Ada tiga poin utama dalam pernyataan Jokowi. Pertama dan utama, Jokowi justru mengucapkan terima kasih kepada lembaga-lembaga penyelenggara pemilu terlebih dahulu, antara lain KPU, Bawaslu, dan DKPP. Ucapan apresiasi juga diberikan kepada aparat keamanan yang telah menjaga situasi tetap kondusif.

Setelah itu, Jokowi baru menyinggung soal hasil penghitungan suara. Itu pun tidak diselingi ucapan terima kasih kepada para pemilihnya.

"Kedua, dari indikasi exit poll dan quick count telah kita lihat semuanya, tapi kita harus bersabar dan menunggu perhitungan dari KPU secara resmi," kata Jokowi.
Quick Count, Jokowi Tak Berlebihan Prabowo Mau Menang SendiriJokowi-Ma'ruf Amin bersama jajaran ketum parpol pendukung. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)


Hal ketiga Jokowi menyatakan semua pihak dan seluruh masyarakat untuk bersatu dan kembali rukun usai gelaran Pemilu 2019.

Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Luki Sandra Amalia mengatakan Jokowi sudah menunjukkan sikap yang seharusnya, yakni tidak menekankan pada aspek keunggulan sementara versi quick count. Lebih kepada ucapan apresiasi terhadap penyelenggara Pemilu dan aparat keamanan.

Sandra mengatakan Jokowi juga telah menunjukkan sikap yang seharusnya ketika meminta masyarakat untuk menjaga kerukunan usai pilpres. Menurutnya, hal itu memang sebaiknya diutarakan oleh Jokowi selaku presiden yang masih menjabat.

"Selain sebagai capres, Beliau masih menjabat sebagai Presiden. Jadi, memang sebagai pemimpin, Beliau harus bisa menunjukkan sikap kenegarawanannya di hadapan publik," tutur Sandra saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (18/4).

Sandra mengatakan pernyataan Jokowi itu perlu dilontarkan ke khalayak publik yang telah terpolarisasi akibat pilpres. Banyak pula kecurigaan yang ada di masyarakat. Menurut Sandra, tujuan Jokowi yang paling utama adalah mendinginkan suasana.

"Sikap yang mengayomi, mengajak masyarakat untuk tenang, kembali bersatu sambil menunggu hasil resmi KPU memang dibutuhkan," ucap Sandra.
Quick Count, Jokowi Tak Berlebihan Prabowo Mau Menang SendiriPrabowo dan massa pendukung mengklaim kemenangan Pilpres 2019. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)


Mengenai gelagat Prabowo, Sandra melihat mantan Danjen Kopassus itu berupaya untuk menjaga semangat para relawannya mengawal penghitungan suara yang masih akan berlangsung di tingkat kecamatan hingga provinsi. Menurutnya, wajar jika seorang capres berusaha memelihara semangat para relawannya.

"Ada pihak yang menjaga semangat tim dengan cara memanaskan, ada juga pihak yang justru menjaga semangat tim dengan cara mendinginkan suasana," kata Sandra.

Analis Politik Exposit Strategic Arif Susanto menilai Jokowi cenderung tidak menampilkan kegembiraan yang meluap-luap karena dirinya masih belum pasti menjadi pemenang. Menurut Arif, kemungkinan Prabowo-Sandi menang sesuai real count KPU masih ada, meski kecil.

"Sebenarnya menunjukkan sikap kehati-hatian, dan wajar. Jika merujuk 5 tahun lalu kan kurang lebih sama. Jokowi juga tidak menunjukkan yakin yang berlebihan," kata Arif.


Ihwal sikap Prabowo, Arif tidak heran. Menurutnya, memang banyak pihak yang sudah memprediksi bahwa Prabowo kembali menunjukkan sikap yang sama seperti 2014 dulu ketika dinyatakan kalah sementara versi quick count.

"Saya kira ini sudah terbaca sejak awal, mengulangi apa yang dia lakukan 5 tahun lalu. Jadi saya cukup yakin sekarang bahwa karakter politiknya Prabowo ingin menang sendiri," tutur Arif.

Arif menganggap sikap Prabowo bisa memberikan dampak buruk di masyarakat. Dia yakin sikap itu tidak akan memberikan pendidikan politik yang baik bagi masyarakat, khususnya pendukung Prabowo - Sandi.

"Ini pembelajaran politik yang tidak cerdas, karena seolah - olah, dalam politik harus menang," kata Arif.

[Gambas:Video CNN] (bmw/osc)